News : “The Atjeh Post” Kembali, Setelah 20 Hari “Mati Suri”



Oleh Redaksi Atjehpost.com (*

Rasanya, tak ada orang Aceh yang tak kenal tari Seudati. Ya, tarian khas Aceh ini dimainkan secara kolektif dengan mengandalkan kelenturan tubuh. Tanpa alat musik, tanpa tetabuhan bunyi-bunyian. Seudati mengandalkan kelenturan tubuh. Awalnya penari meliukkan badan perlahan, lalu meliuk cepat, semakin cepat, lalu...hap, penari berhenti tiba-tiba. Sunyi. Hingga penonton tersadar tarian telah usai dan tepuk tangan pun bergemuruh.

Gerak Seudati yang berhenti tiba-tiba inilah yang terjadi dengan The Atjeh Post pada 12 Desember 2011. Setelah dimulai perlahan sejak 22 Pebruari 2011, situs berita Aceh ini melaju cepat, kian cepat, hingga berhenti mendadak pada posisi terbaik yang pernah kami raih.

Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan: dukungan dan pertanyaan mengalir dari berbagai penjuru. Pertanyaan yang dominan muncul: ada apa dengan The Atjeh Post? Hingga sepekan sesudahnya, kami disibukkan dengan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir deras bagai air bah. Tak hanya pertanyaan, beberapa diantaranya malah lebih tepat disebut luapan amarah.

Dugaan demi dugaan pun bermunculan. Ada yang menduga The Atjeh Post mendapat tekanan dari penguasa karena terlalu sering mengkritik. Ada juga yang mengira kami tutup karena tekanan dari pihak yang berseberangan dengan pemerintah.

Beberapa jam menjelang tutup, telepon milik Yuswardi A Suud --Pemimpin Redaksi The Atjeh Post-- berdering. Di ujung telepon, terdengar suara Gubernur Irwandi Yusuf. Entah darimana mendapat kabar itu, Irwandi bertanya soal rencana menutup website ini. Ia sempat menawarkan diri membantu agar media ini kembali online. Kami mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Namun, dengan berbagai pertimbangan, tawaran itu belum dapat kami terima. Irwandi menyerah. Sebelum menutup telepon ia sempat berpesan,"Bah pih kayem ka kheun keu lon, bek ka top atjehpost.com nyan (meskipun sering mengkritik saya, janganlah kalian tutup atjehpost.com itu)."

Besoknya, giliran pendiri situs ini Nurlis E Meuko mendapat telepon. Kali ini telepon datang dari Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf. Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka ini pun mempertanyakan sebab musabab atjehpost.com harus pamit mundur. "Atjehpost kajeuet keu atra ureueng Aceh. Pue yang jeuet kamoe bantu. Neu mita cara atjehpost beu udep lom."

Paginya, giliran Ketua Desk Aceh Menkopolhukam Mayjen Amiruddin Usman yang menelepon. "Kenapa atjehpost.com ditutup? Apa karena ada berita tentang saya disitu? Saya kecewa kalau kalian benar-benar tutup."

Mayjen Amiruddin memang jarang menjadi narasumber kami. Ia baru muncul saat mengirim siaran pers ke redaksi The Atjeh Post terkait kasus penembakan pekerja kebun di Geureudong Pasee, Aceh Utara. Kami pun memastikan bahwa keputusan pamit itu tidak terkait dengan dirinya.

Kapolda Aceh Irjen Iskandar Hasan juga tak tinggal diam. Selama ini, Jenderal Polisi yang dikenal ramah ini memang salah satu sumber berita kami menyangkut aksi-aksi kriminalitas dan keamanan di Aceh. Iskandar selalu meluangkan waktu menjawab telepon dari redaksi The Atjeh Post jika ada peristiwa atau perkembangan kasus-kasus yang harus secepatnya disampaikan ke masyarakat.

Simpati juga datang dari beberapa pejabat daerah lain seperti Wakil Gubernur Muhammad Nazar, Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin, sejumlah anggota DPRA, dan pihak-pihak lain yang tak mungkin kami sebutkan satu per satu.

Di jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter dukungan pembaca tumpah ruah. Sungguh, rasa kehilangan anda berubah menjadi air mata di ruang redaksi. Toh, keputusan redaksi untuk pamit juga diambil dengan hati yang teriris.

Kami tak pernah membayangkan akan ada rasa kehilangan yang begitu besar ketika atjehpost.com berhenti mengudara. Sebelumnya kami mengira berada di jalan sunyi. Ternyata kami salah. Ternyata kami masih punya anda. Ya, anda!

Dukungan demi dukungan yang mengalir berubah menjadi badai semangat yang merasuk ke jiwa kami. "Kita harus terbit lagi. Kita sudah terlanjur menjadi milik masyarakat Aceh," kata Nurlis suatu malam.

Keputusan pun diambil dengan suara bulat. The Atjeh Post harus kembali mengudara. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Tak dapat dipungkiri, untuk menjalankan sebuah media dibutuhkan bekal yang tak sedikit. Uang, uang dan uang. Namun, seperti yang kami ceritakan saat pamitan dengan pembaca, kami tutup bukan lantaran kehabisan modal. Toh, dari awal media ini dibangun tanpa modal. Bagaimana mungkin bisa habis? Kata orang Aceh, "ureueng hana peng pane mungken abeh peng (orang yang tidak punya uang bagimana mungkin kehabisan uang).

Rencana terbit lagi pun disusun. Sebagai kantor, kami menempati rumah salah satu pendiri situs ini yang kebetulan belum ditempati. Kami menyebutnya: House of The Atjeh Post. Wartawan kami Reza Gunawan yang biasanya meliput isu-isu politik punya kerjaan baru. Bersama Mukhlis ia kebagian tugas membuat taman kecil di halaman rumah. Reza yang biasanya bersenjatakan pena, tiba-tiba beralih profesi menjadi tukang taman.

Dari daerah, rekan-rekan wartawan menyatakan siap sedia bergabung kembali kapan pun The Atjeh Post kembali terbit.

Di Jakarta, web designer kami merancang wajah baru untuk website ini. Kami tidak ingin hanya sekedar kembali. Kami ingin hadir kembali dengan wajah berbeda yang lebih cantik dan enak dipandang. Jika sebelumnya atjehpost.com menggunakan open source gratisan dari Joomla, kini kami punya Content Management System (CMS) sendiri.

Dari segi kanal rubrik, kami juga menambahkan beberapa rubrik baru sebagai variasi berita dan informasi untuk anda. Di rubrik "Buku", misalnya, mulai hari ini anda akan menemukan cerita-cerita tentang Aceh dari buku-buku lama. Saking lamanya, ada yang berasal dari tahun 1700-an.

Sejatinya, website ini kami rencanakan kembali mengudara pada 22 Pebruari 2012, saat media ini berusia setahun. Namun, keinginan untuk secepatnya hadir kembali mengalahkan rencana itu. Akhirnya, hari ini (2 Januari 2012), setelah 20 hari 'mati suri,' The Atjeh Post kembali hadir ke hadapan anda. Inilah kado kami untuk anda di awal tahun baru ini.

Jika anda melihat masih ada kekurangan di sana-sini dalam wajah baru website ini, ini memang karena masih dalam versi Beta yang akan disempurnakan sambil jalan.

Kami berharap, semoga ke depan tidak ada lagi perpisahan yang menyakitkan. Kami ingin situs ini tidak hanya menemani anda, tapi juga anak cucu anda kelak. Terlalu optimis? Namanya saja cita-cita, tentu harus digantung setinggi langit. Tanpa cita-cita, barangkali kita tidak melakukan apa-apa. Iya kan?[]

***

Saleum Redaksi The Atjeh Post

Post a Comment

Previous Post Next Post