![]() |
| Img : serambinews.com |
Serambinews.com - Gempa 7,1 SR yang berpotensi tsunami (pada awalnya BMKG melaporkan 7,6 SR) yang mengguncang Aceh pada pukul 01.36 WIB, Rabu (11/1) menimbulkan kepanikan luar biasa di sejumlah wilayah Aceh. Air laut di Meulaboh, Aceh Barat dilaporkan sempat surut selama beberapa menit sehingga fenomena ini menambah kepanikan.
Kepanikan mulai terjadi ketika lima menit pascagempa, BMKG menginformasikan gempa pukul 01.36 WIB dengan kekuatan 7.1 SR yang berpusat di 2.41 Lu-93.09 BT atau 334 kilometer Barat Daya kabupaten Simeulue dengan kedalaman 10 kilometer tersebut berpotensi tsunami. Sejumlah stasiun televisi nasional juga mengingatkan ancaman tsunami di beberapa kawasan termasuk Aceh Barat, Banda Aceh, dan Aceh Besar.
Di Meulaboh, hampir seluruh jalur utama kota itu, terutama dari kawasan pesisir ke zona aman penuh sesak dengan berbagai kendaraan, termasuk yang berjalan kaki.
Kepala Badan Pelaksana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Teuku Ahmad Dadek kepada Serambi mengatakan, air laut diketahui surut ketika petugas BPBD melakukan pengecekan ke pinggiran pantai. “Terlihat batas surut sekitar 20 centimeter dari biasanya,” kata Dadek.
Masyarakat Meulaboh juga mempertanyakan karena sirine early warning system tak berbunyi meski ada peringatan potensi tsunami dari BMKG. Terhadap itu, seorang pejabat di BPBA mengatakan, data BMKG hanya menyebut potensi tsunami, namun titik persis ancaman belum diketahui. “Berdasarkan analisa dan olah data lebih lanjut di Pusdalops Aceh, Meulaboh tidak termasuk kawasan yang akan dilanda tsunami, makanya sirine tidak diaktifkan,” kata sumber di BPBA.
Selain Meulaboh, kepanikan juga melanda masyarakat Nagan Raya. Namun Kepala BPBD Nagan Raya, Drs Mawardi memastikan tidak ada korban jiwa maupun laporan kerusakan.
Masyarakat Aceh Jaya juga panik dan berlarian menjauh dari pesisir pantai sesaat setelah gempa kuat pada Rabu dini hari itu. Menurut Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Aceh Jaya, Heri Dinata, berdasarkan pemantauan pihaknya bersama relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Aceh Jaya, tidak ada korban jiwa maupun laporan kerusakan. “Hanya panik saja,” kata Heri.
Kawasan terparah dan relatif lebih lama merasa ayunan gempa pada Rabu dini hari itu adalah Simuelue. Menurut Sekretaris BPBD Simeulue, Karib, kepanikan melanda masyarakat, namun tak lama kemudian warga kembali ke rumah masing-masing. “Meski sempat dilaporkan berpotensi tsunami, tetapi Alhamdulillah musibah itu tidak terjadi,” kata Karib.
Masyarakat Bener Meriah, sebagaimana dilaporkan seorang relawan RAPI di wilayah itu, Mandala, kepanikan sempat juga terjadi ketika gempa mengguncang. “Syukurlah tak ada korban jiwa,” ujar Mandala.
Banda Aceh
Di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, warga yang mendiami pesisir pantai berbondong-bondong ke sejumlah titik di pusat kota, bahkan ada yang langsung ke Gue Gajah, Keutapang Dua, Lambaro, dan Blangbintang karena khawatir terjadinya tsunami.
Selain mengikuti informasi melalui televisi, tak sedikit warga Banda Aceh dan Aceh Besar memantau lalulintas komunikasi relawan RAPI yang melaporkan secara terus menerus perkembangan informasi dari berbagai sumber. Kepanikan berakhir sekitar pukul 04.00 WIB setelah memastikan BMKG mencabut status siaga tsunami. “Alhamdulillah tak ada korban jiwa dan laporan kerusakan meski kepanikan luar biasa,” kata Kepala BPBD Kota Banda Aceh, Sofyan.
Siaga tsunami
BMKG mengeluarkan warning siaga dan waspada tsunami untuk wilayah Aceh, seperti Meulaboh, Simelue, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh. Juga untuk sejumlah daerah lain di Indonesia, yaitu Sumut, Sumbar, Bengkulu, dan Lampung.
Kepala BMKG Mataie, Syahnan mengatakan, khusus untuk Simeulu dan Meulaboh, status siaga dan waspada tsunami baru dicabut pada pukul 03.20 WIB. Ini lantaran pusat gempa di Simeulue. “Apalagi berdasarkan informasi masyarakat sempat terjadi penurunan air laut, meski sedikit,” kata Syahnan. (edi/riz/mir/c47/SI)
