
Aceh merupakan daerah nomor satu penghasil nilam dan menduduki kualitas terbaik. Faktor itulah yang menjadikan Aceh sebagai penopang utama Indonesia sebagai pemasok minyak nilam terbesar di Pasar internasional.
Oleh Rahmat RA (*
Kebutuhan minyak nilam dunia yang dipasok Indonesia ke pasaran internasional sebesar 80 persen dan 70 persennya berasal dari Aceh. Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika.
Dunia membutuhkan 1.200 hingga 1.500 ton ton minyak nilam setiap tahun dan volume itu cenderung terus meningkat, sementara produksi yang tersedia baru mencapai 1.000 ton per tahun. Harga di pasar lokal berkisar Rp350.000 hingga Rp 400.000 per kilogram.
Seiring tingginya permintaan pasar dan menurunnya produksi nilam dunia, harga minyak nilam diprediksi bisa mencapai Rp1 juta per kilogram di tahun 2012. Asosiasi Minyak Atsiri Indonesia menyebutkan, produksi minyak nilam Indonesia tahun 2011 menurun dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2011 produksi minyak nilam sebanyak 800 ton, sedangkan tahun 2010 mampu memproduksi hingga 1.000 ton.
Potensi inilah yang nantinya dapat dijadikan peluang bisnis yang menjanjikan. Karena permintaan minyak nilam di berbagai pasar luar negeri cukup menggiurkan. Meski kontribusi ekspor minyak atsiri masih relatif kecil terhadap nilai devisa total Indonesia. Namun, ternyata terjadi kenaikan permintaan setiap tahun. Bahkan peningkatannya cukup tajam. Sehingga peluang pengembangan industri tersebut sangat terbuka lebar.
“Produksi minyak nilam Aceh semakin meningkat seiring tingginya permintaan pasar dunia. Karena itu momen ini harus dipergunakan seaefektif mungkin oleh rakyat Aceh, sehingga perekonomiannya semakin baik dan sejahtera,” kata Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar pada acara pembentukan Forum Perlindungan Nilam Aceh di Banda Aceh beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, minimnya pasokan minyak nilam dunia selama ini, sehingga harga minyak nilam sangat potensial. Untuk itu, menjadikan berprofesi sebagai petani nilam sangat menjanjikan, sambung Nazar.Menurut wagub, di Amerika dan sejumlah negara di eropa, mereka sangat membutuhkan minyak nilam sebagai bahan industri parfum, farmasi, kosmetika dan industri makanan serta minuman.
Meski populer di pasar internasional, minyak atsiri nilam kurang akrab di telinga kalangan lokal. Apalagi masih sedikit yang mengenal tanaman nilam dengan baik. Padahal ini peluang bisnis di masa depan. Nilam merupakan salah satu dari 150-200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 hingga 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial.
Dari hasil penelitian Institut Pertanian Bogor menyebutkan, nilam Aceh atau pogostemon cablin benth memiliki kandungan minyak berkisar 2,5 hingga 3,3 persen. Berbanding terbalik dengan dua jenis nilam lainnya, yaitu pogostemon heyneanus atau nilam jawa yang kandungan minyaknya hanya 0,50-1,5 persen dan pogostemon hortensis alias nilam sabun yang kandungan minyaknya 0,5-1,5 persen. Penelitian itu menunjukkan bahwa nilam di Aceh berada di atas rata-rata kualitas dunia.
Potensi Nilam Aceh
Beranjak dari besarnya potensi dan kualitas minyak nilam Aceh, para importir negara-negara di dunia mulai tertarik terhadap komoditas tersebut. Untuk itu, geliat penanaman nilam harus dipacu lebih kencang lagi di kalangan masyarakat tani untuk menggenjot produktifitasnya di masa depan. Selain menggalakkan budidaya nilan, peningkatan lahan pertanian tanaman nilam harus diperluas di daerah-daerah penghasil nilam terbaik Aceh.
Saat ini, jumlah petani nilam di Aceh mencapai 2.500 orang yang tersebar di beberapa kabupaten. Dari data yang diperoleh, Kabupaten Aceh Barat menempati posisi paling atas, baik sebagai penghasil nilam maupun jumlah petani. Kemudian disusul Aceh Jaya, Aceh Selatan dan Kabupaten Gayo Lues.
Geliat budidaya nilam di Aceh kian dilirik dunia. Salah satunya sebut saja Lembaga Internasional Caritas Czech Republic (CCR) yang didukungan Bank Dunia merancang program terpadu pemberdayaan petani komoditas ekspor unggulan nonmigas itu.
Menurut Koordinator CCR, Indra, setiap petani nilam di Aceh minimal memiliki lahan satu hektar, bahkan di Gayo Lues, petani memiliki 12 hektar per jiwa. Sehingga program ini, jika didukung pengolahan yang sempurna, diperkirakan mampu menciptakan sumber pendapatan utama masyarakat Aceh. Khususnya di tiga kabupaten utama penghasil nilam tersebut.
Cikal bakal sentral nilam di Aceh sepertinya segera terwujud. Hal itu dapat dilihat dari penyediaan lahan seluas dua hektare sebagai lokasi pembangunan ketel berkapasitas 300 kilogram di Kecamatan Woyla, Aceh Barat. Ketel atau tempat penyulingan nilam itu dibangun untuk menunjang program pemberdayaan nilam Aceh.
“Petani dapat memanfaatkan ketel sebagai lokasi pengelola bibit nilam serta petani dapat panen dua kali dalam satu siklus, kemudian kita bentuk koperasi untuk memutuskan mata rantai pemasaran,” tambah Indra.
Sampai saat ini Aceh, terutama Aceh barat, Aceh Selatan dan Gayo Lues, masih menjadi sentra nilam terluas di Indonesia. Disusul Sumatra Utara (Nias, Tapanuli Selatan), Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah (Banyumas, Banjarnegara), dan Jawa Timur (Tulungagung). Umumnya, masih didominasi perkebunan rakyat berskala kecil.
Hak Intelektual
Setelah berhasil memperjuangkan hak paten/intelektual terhadap Kopi Gayo yang telah sekian lama dipegang Belanda ke menkumham RI dan Tari Saman sebagai warisan dunia nonbenda atas bantuan UNESCO dan kementerian terkait. Kini Wakil Gubernur Muhammad Nazar akan memperjuangkan hak paten atas minyak nilam Aceh.Menurut Nazar, Pemerintah Aceh sedang berupaya untuk mematenkan nilam Aceh itu. Langkah tersebut, kata wagub, sebagai upaya melindungi kekayaan indikasi geografis hasil pertanian Aceh. “Kalau ini berhasil, merupakan yang kedua dilakukan Aceh setelah Kopi Arabica Gayo,” sebut Nazar.
Dalam memperjuangkan hak paten produk nilam, kata Nazar, Pemerintah Aceh bekerjasama dengan Multi Donor Fund (MDF), World Bank, Caritas, Kemenkumham RI dan pihak-pihak terkait.
Menurut Nazar, soal nilam Aceh, bukan sekedar diperjuangkan memiliki hak paten, namun juga bermaksud mendorong spirit produktifitas para petani serta dunia usaha nilam di Aceh dan pengedalian hulu-hilir hingga pasar. “Yang terpenting Forum Perlindungan Nilam Aceh sudah terbentuk, dengan ini kita berharap, salah satunya harga nilam di tingkat petani tidak dipermainkan,” tekan Wagub.
Selain itu, Nazar menginginkan masyarakat Aceh mau berfikir dan memiliki mental industrial. Sehingga warga Aceh akan menghargai produktifitas, kualitas, cita rasa atau taste, pelayanan, kedisiplinan, kepercayaan dan tanggung jawab dalam kegiatan ekonomi. “Jangan sampai lahan luas tetapi hasilnya sedikit, kualitas rendah, produksi tidak berkelanjutan dan akhirnya uang daerah bakal sia-sia,” pungkasnya.[harian-aceh]
Wagub: Nilam Aceh terbaik di dunia
Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengungkapkan minyak nilam di provinsi Aceh masuk dalam kategori terbaik di dunia, sehingga ketertarikan importir dari luar terhadap komoditas tersebut sangat tinggi.
"Hasil penelitian Institut Pertanian Bogor menyebutkan, nilam Aceh memiliki kandungan minyak berkisar 2,5 hingga 3,3 persen. Secara umum kandungan zat minyak hanyak 2,5 persen, jadi ini menunjukkan bahwa nilam di Aceh berada di atas kualitas dunia," katanya dalam acara pembentukan Forum Perlindungan Nilam Aceh di Banda Aceh.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah unsur Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten, akademisi, NGO luar dan dalam negeri serta Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI).
Dijelaskan, potensi ini harus di gunakan sebaiknya oleh rakyat Aceh sehingga perekonomiannya akan semakin sejahtera. Apalagi, kata Muhammad Nazar kebutuhan minyak nilam dunia saat ini mencapai 1.400 ton/tahun sedangkan minyak nilam yang berhasil diproduksi hanya 1000 ton/tahun.
"Produksi ini semakin meningkat seiring tingginya permintaan minyak nilam. Karena itu momen ini harus dipergunakan oleh petani nilam se-efektif mungkin," kata Wagub ini.
Ia menambahkan, minimnya pasokan minyak nilam dunia selama ini karena pasokannya sangat kurang sehingga harga minyak nilam sangat ekonomis. Untuk itu, menjadikan profesi sebagai petani nilam sangat menjanjikan,sambung Muhammad Nazar.
"Di Amerika dan sejumlah negara di eropa, mereka sangat membutuhkan minyak nilam karena dijadikan sebagai bahan industri parfum, farmasi, kosmetika dan industri makanan serta minuman," jelas dia.
Selain itu, Muhammad Nazar menyebutkan kebutuhan minyak nilam dunia yang dipasok Indonesia ke pasaran dunia sebesar 80 persen. 70 persen produksi minyak nilam berasal dari Aceh, ungkap wakil gubernur Aceh ini.
"Ke depan tidak heran jika minyak nilam Aceh akan menjadi primadona dunia. Mudah-mudahan dengan adanya LSM yang datang ke Aceh bisa terus mensosialisasikan keberadaan nilam Aceh semakin di kenal pada tingkat internasional," harap Muhammad Nazar.
Sementara itu, juru bicara Caritas Czeh Repuplic, Isfani Yunus mengatakan produk nilam bisa menjadi sebagai produk berpotensi karena aroma nya khas dan tidak dimiliki oleh daerah manapun.
Hal lain juga karena bibit nilam Aceh bila ditanam di tempat lain juga memiliki kandungan minyaknya tinggi dan berbeda dengan daerah lain, papar dia. [antaranews]
"Hasil penelitian Institut Pertanian Bogor menyebutkan, nilam Aceh memiliki kandungan minyak berkisar 2,5 hingga 3,3 persen. Secara umum kandungan zat minyak hanyak 2,5 persen, jadi ini menunjukkan bahwa nilam di Aceh berada di atas kualitas dunia," katanya dalam acara pembentukan Forum Perlindungan Nilam Aceh di Banda Aceh.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah unsur Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten, akademisi, NGO luar dan dalam negeri serta Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI).
Dijelaskan, potensi ini harus di gunakan sebaiknya oleh rakyat Aceh sehingga perekonomiannya akan semakin sejahtera. Apalagi, kata Muhammad Nazar kebutuhan minyak nilam dunia saat ini mencapai 1.400 ton/tahun sedangkan minyak nilam yang berhasil diproduksi hanya 1000 ton/tahun.
"Produksi ini semakin meningkat seiring tingginya permintaan minyak nilam. Karena itu momen ini harus dipergunakan oleh petani nilam se-efektif mungkin," kata Wagub ini.
Ia menambahkan, minimnya pasokan minyak nilam dunia selama ini karena pasokannya sangat kurang sehingga harga minyak nilam sangat ekonomis. Untuk itu, menjadikan profesi sebagai petani nilam sangat menjanjikan,sambung Muhammad Nazar.
"Di Amerika dan sejumlah negara di eropa, mereka sangat membutuhkan minyak nilam karena dijadikan sebagai bahan industri parfum, farmasi, kosmetika dan industri makanan serta minuman," jelas dia.
Selain itu, Muhammad Nazar menyebutkan kebutuhan minyak nilam dunia yang dipasok Indonesia ke pasaran dunia sebesar 80 persen. 70 persen produksi minyak nilam berasal dari Aceh, ungkap wakil gubernur Aceh ini.
"Ke depan tidak heran jika minyak nilam Aceh akan menjadi primadona dunia. Mudah-mudahan dengan adanya LSM yang datang ke Aceh bisa terus mensosialisasikan keberadaan nilam Aceh semakin di kenal pada tingkat internasional," harap Muhammad Nazar.
Sementara itu, juru bicara Caritas Czeh Repuplic, Isfani Yunus mengatakan produk nilam bisa menjadi sebagai produk berpotensi karena aroma nya khas dan tidak dimiliki oleh daerah manapun.
Hal lain juga karena bibit nilam Aceh bila ditanam di tempat lain juga memiliki kandungan minyaknya tinggi dan berbeda dengan daerah lain, papar dia. [antaranews]