
“...Seribu jemari, tangan bergerak gesit dan serempak, hanya bersama puluhan tubuh dan kepala para penari. Memberi pesan kehidupan yang dinamis, tak boleh lamban, kompak, terpadu. Tanpa benturan dalam gerak yang cepat. Serta kekuatan yang dahsyat dalam kearifan dan peradaban....”
Bernada puitis, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar memberi sambutan pada Sidang ke-6 Komite Antar Pemerintah Unesco untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, di Nusantara Room Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Jumat malam, 25 November 2011. Sebelum memulai sambutannya, Nazar mengucapkan salam dari Gubernur Aceh Irwandi Yusuf kepada seluruh peserta yang hadir.
Nazar diundang ke acara ini atas nama Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh. Di sini hadir sejumlah pejabat, termasuk Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Prof. Wiendu Nuryanti. Selain itu ada juga Wakil Direktur Unisce, dan dari 137 negara, serta berbagai komponen pemerintahan dan non pemerintahan yang bergerak di bidang pendidikan, budaya, dan seni.
Dengan wajah berseri-seri, Nazar mengatakan, Tari Saman adalah sebuah tari yang amat sangat berkearifan karena merepresentasikan keseriusan, ketangguhan, ketangkasan, dan kerja keras dalam kebersamaan dan dalam segala urusan. "Di sini juga merefleksikan tatanan yang diharapkan selalu harus harmonis dalam kehidupan bangsa-bangsa yang berbeda dengan wajah artistik yang bijak," katanya.
Itulah sebabnya, kata Nazar, Pemerintah Aceh sejak 2008 berupaya meningkatkan berbagai pembinaan terhadap berbagai seni tari, termasuk Saman, melalui berbagai sanggar seni. Nazar yang menjabat sebagai wakil gubernur, menurut undang-undang memang bertanggungjawab pada seni dan budaya yang memang salah satu tupoksinya. "Kami menyadari Tari Saman bukan hanya milik Tanah Gayo, tetapi juga milik Aceh, milik Indonesia, dan kini telah menjadi milik dunia," katanya.
Selama 2008-2009, Nazar memang sering mengkampanyekan soal seni dan kebudayaan Aceh. Tak hanya dalam event-event besar, bahkan dalam kumpulan yang cuma dihadiri beberapa seniman pun, Nazar menyempatkan diri untuk hadir. Dia memang terbiasa mempromosikan Saman, Seudati, dan rapa'i geleng, dan sejumlah seni dan budaya lainnya.
Berbagai upaya itu membuahkan hasil. Pada 2009, respon pun datang dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta Unesco. Akhir 2009, datang pejabat dari Unesco ke kantor Wakil Gubernur Nazar. mereka menyambut wacana sejumlah seni untuk dimasukkan sebagai warisan dunia. Nazar langsung melaporkannya ke Kemenbudpar. "Lalu diresearch secara ilmiah oleh Menbudpar dan dibikinkan film dokumenter untuk dibawa ke Unesco," katanya.
Sejak itu, berseliweran pula iklan Tari Saman di sejumlah televisi swasta. Bintang iklan untuk mempromosikan saman tak lain adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, serta Wagub Nazar. Tentu dikuatkan dengan sejumlah penari Saman.
Akhirnya, pada sidang ke-6 Komite Antar Pemerintah Unesco untuk Perlindungan Budaya Tak Benda yang dhadiri 400 orang dari 137 negara itulah Saman ditetapkan menjadi warisan dunia. "Aceh memiliki peradaban, dan Tari Saman hanyalah salah satunya dan kami bangga karena telah menjadi peradaban dunia," kata Nazar.
***
Saman adalah tarian warisan budaya asli suku Gayo sejak abad ke-13, di daerah Gayo Lues dan sekitarnya di Provinsi Aceh yang kemudian dikembangkan oleh Syeh Saman untuk penyampaian pesan keagamaan.
Pemain Saman adalah laki-laki, umumnya muda, dan jumlahnya selalu ganjil duduk bersimpuh atau berlutut dalam baris rapat. Pemain memakai pakaian adat yang dibordir dengan motif tradisional Gayo yang penuh simbolisme alam dan nilai luhur.
Pelatih atau penangkat di tengah memimpin pemain menyanyikan syair berisi pesan pembangunan, keagamaan, nasihat, adat, sindiran, humor, bahkan romantis.
Pemain bertepuk tangan, dada, paha dan tanah/lantai, jentikkan jari, menggoyangkan badan kiri kanan, depan belakang, menggoyangkan dan memutarkan kepala atas bawah kiri kanan, menggerakkan tangan, menunduk secara sinkron sesuai ritme, kadang lambat, kadang cepat dan energik, kadang serentak, kadang selang seling antara pemain dengan posisi ganjil dan posisi genap dalam baris. Gerak Saman menggambarkan alam, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Gayo.
Saman dipertandingkan bila satu desa mengundang desa lain guna menjalin hubungan silaturahmi antardesa.
Saman dipakai untuk menjamu tamu dan untuk memeriahkan hari besar nasional dan keagamaan. Saman juga permainan anak-anak suku Gayo di desa. Saman umumnya ditransmisikan secara informal kepada anak kecil di desa.
Frekuensi pementasan Saman dan transmisinya kepada generasi penerus menurun saat ini, walaupun masyarakat dan Pemerintah sudah berusaha melestarikannya, sehingga diperlukan upaya pelestarian mendesak.
***
Nazar berpidato di ujung acara. Selanjutnya, satu persatu penari Saman naik panggung. Datang langsung dari Gayo Lues, beraksi di Bali. Laksana seribu jari, tangan bergerak gesit dan serempak, hanya bersama puluhan tubuh dan kepala para penari.
Tanpa benturan dalam gerak yang cepat. Serta kekuatan yang dahsyat yang terpancar dari mereka.
Penari itu seperti menyihir ratusan pasang mata yang seolah tak berkedip melihat mereka. Setelah selesai serempak. Penonton berdiri bertepuk tangan. Saman telah menyihir mereka dalam semangat dan peradaban dari Aceh untuk dunia. []