Nazarul Fahmi (tengah)
"Mak, ini Ami masih di London, Ami gak bisa pulang. Alhamdulillah Ami dipanggil ikut seleksi Akademi Arsenal. Mak..Ami minta doa dari Ayah dan Mamak, Ami pengen banget masuk Akademi Arsenal, ini yang Ami cita-citakan dari dulu, Mak. Ami mohon doa restu dari Mamak dan Ayah. Dari Tunas Garuda cuma dua orang yang dipilih, Ami sama Rangga. Ami disini ditemani sama Pak Fani dan Mas Wahyu yang udah lama di London..."
Membaca SMS itu, Hadisah seakan tak percaya. Haru dan bangga bercampur-baur di hatinya. Ami tak lain adalah anaknya, Nazarul Fahmi, yang baru dipastikan masuk Arsenal Development Centre, tempat klub papan atas Inggris itu mengggondok bibit-bibit unggul. Tak terasa, air matanya menetes.
Tak lama, teleponnya berdering. Ternyata, Fahmi yang menelpon dan mengabarkan dirinya terpilih ikut seleksi masuk Akademi Arsenal. “Teu klik loen deungo haba nyan. Lon peugah bak Ami masak badan simete kuto lagee nyan dipileh tamoeng u klub Arsenal (Menangis saya dapat kabar itu. Saya bilang sama Ami, masak badan hanya satu meter kotor bisa terpilih masuk ke klub Arsenal),” kata Hadisah.
“Di sinoe Mak, hana ji kalon badan, yang peunteng jeut meu’en (di sini, Mak, tidak dilihat tinggi badan, yang penting bisa main),” jawab Fahmi.
Fahmi memang bertubuh kecil. Usianya masih 16 tahun. Tingginya tak lebih dari 157 sentimeter. Itu sebabnya, Hanisah sering meledeknya sedang sebutan simetee kuto (semeter kotor).
Bagi Hanisah, melepas Fahmi ke Inggris sebenarnya bukan perkara gampang. Selama ini, kata dia, Fahmi memang sangat dekat ibunya. Namun, ia berusaha ikhlas. “Saya menangis bukan karena tidak ikhlas. Selama ini sewaktu Ami berada di Inggris saya berdoa kepada Allah agar diberikan yang terbaik kepada anak saya. Kalau memang dia dipilih disana dan itu yang terbaik untuk dia, maka kabulkanlah Ya Allah, dan jika itu bukan yang terbaik untuk dia maka kembalikan dia ke Indonesia,” kata Hadisah. Ada nada sedih dalam nada suaranya.
“Ternyata itu terkabulkan, Ami terpilih untuk mengikuti seleksi masuk Akademi klub Arsenal mungkin itu yang terbaik untuk dia,” lanjutnya. Walaupun merasa sedih, Hadisah sangat bangga dan bahagia karena cita-cita anaknya selama ini terwujud sudah.
Terinspirasi Kisah Martunis
Menurut Hadisah, Cita-cita Fahmi keluar negeri terinspirasi dari kisah Martunis, bocah korban tsunami yang mengidolakan Cristiano Ronaldo, pemain asal Portugal yang kini merumput di Real Madrid. Saat itu, Martunis ditemukan selamat oleh wartawan sebuah stasiun televisi dengan mengenakan kaos tim nasional Portugal bernomor punggung 10.
Terinspirasi Kisah Martunis
Menurut Hadisah, Cita-cita Fahmi keluar negeri terinspirasi dari kisah Martunis, bocah korban tsunami yang mengidolakan Cristiano Ronaldo, pemain asal Portugal yang kini merumput di Real Madrid. Saat itu, Martunis ditemukan selamat oleh wartawan sebuah stasiun televisi dengan mengenakan kaos tim nasional Portugal bernomor punggung 10.
Nama Martunis pun melambung ke seantero Eropa. Selain dikunjungi Ronaldo di Banda Aceh, Martunis juga dibawa ke Portugal, menyaksikan langsung permainan tim idolanya. Presiden FIFA Slepp Blatter pun ikut mendampinginya. Bahkan, penyanyi Madonna mengundang Martunis dan ayahnya ke London.
"Saat itu, Ami bilang sama saya, kalau Martunis bisa begitu, kenapa saya tidak bisa, Mak. Saya jawab, Itu semua sudah diatur oleh Allah. Jika memang cita-cita kamu begitu, maka berdoa dan berusahalah, Insya Allah itu akan terwujud, " kenang Hanisah.
Sejak itu, Hanisah pun mendukung cita-cita Fahmi. Tak jarang ia ikut mendampingi anaknya berlatih, bahkan saat ikut kompetisi ke luar daerah pun, Hanisah hadir di samping Fahmi.
“Padahai loen teumakot that ek pesawat. Walaupun loen ka jak u haji, teutap teumakot. Tapi walaupun lagee nyan, karena demi cita-cita aneuk loen, loen peubeuho droe ek pesawat (Padahal saya takut naik pesawat. Walaupun saya sudah naik pesawat waktu berhaji, tetap saja takut. Tapi karena demi cita-cita anak saya, saya memberanikan diri untuk naik pesawat),” ujar Hadisah.
Hadisah lalu berkisah tentang perjuangan Fahmi untuk meraih ambisinya. Yang paling menyedihkan, kata dia, ketika Fahmi tak terpilih sebagai peserta Liga Pendidikan Indonesia mewakili Bireuen. Fahmi pun bertanya, "Pue kureueng lon mak. Pakon lon hana ji pileh (apa kekurangan saya, Mak. Kenapa saya tidak dipilih)."
Seperti seorang Ibu lain, Hadisah pun mencoba mengusir kegundahan buah hatinya. Katanya, setiap kegagalan merupakan pintu awal menuju keberhasilan.
Semenjak itu, Fahmi terus bertekad mewujudkan cita-citanya. Hingga suatu hari ia menemukan informasi akan adanya seleksi masuk Tunas Garuda di internet. Yang lolos seleksi akan dikutsertakan ke Arsenal. Tiba di rumah, Fahmi langsung menyampaikan informasi itu ke ibunya. "Lon peugah, kah ube ok, talo eunteuk ngen awak Batak (badanmu kecil, kalah nanti dengan orang Batak)," kata Hadisah.
Namun, Fahmi tak berkecil hati, Tekatnya sudah bulat. Ia hanya meminta uang Rp 20 ribu untuk mempersiapkan persyaratannya. Abangnya, Muammar Saputra mendorong sang ibu untuk mendukung niat Fahmi. Hadisah pun mendampingi Fahmi ke Deli Serdang, Medan, untuk menjalani seleksi.
Di Medan, Fahmi membuktikan kepiawaiannya. Dari lebih 1.000 pendaftar, hanya tiga orang yang terpilih untuk ikut seleksi lanjutan di Jakarta, termasuk Fahmi. "Di Jakarta dia juga lolos dan menjadi pemain unggulan untuk diberangkatkan ke Inggris," kata Hadisah.
20 Bungkus Lontong
20 Bungkus Lontong
Hadisah senang anaknya lolos. Namun, ada satu hal yang mengganjal di benaknya. Begini ceritanya. Sewaktu hendak berangkat ke Inggris, pelatih Tunas Garuda memberitahu bahwa perjuangan di sana sangat berat. Kata pelatih, di sana mereka hanya diberi sepotong roti dan akan menghadapi cuaca dingin dengan suhu 12 derjat celcius.
Hanisah pun memutar otak, mencari siasat. Gotcha! Dia menemukan solusinya: membekali Fahmi dengan 20 bungkus lontong. Untuk mengantisipasi udara dingin, Hadisah membekalinya dengan sehelai syal putih untuk dililit di leher jika sewaktu-waktu Fahmi kedinginan.
“Alhamdulillah berkat syit lontong nyan. Watee sigolom meu’en bola, si Ami dipajoh lontong nyan ile bacut. Sampek na diceurita jih na dipeulob bola di sideh (alhamdulillah berkat juga lontong itu. Sebelum si Ami main bola, dia makan lontong itu dulu sedikit. Dia juga cerita berhasil mencetak gol di sana)," kata Hadisah dengan nada bangga.
Bakat Nazarul Fahmi di sepakbola sudah terlihat sejak duduk di bangku SD. Hanisah ingat benar, setiap pulang dari bermain bola, Fahmi selalu bercerita jika berhasil mencetak gol. “Mak, uroe nyoe loen pelop 2 neuk (Mak, saya hari ini memasukkan 2 gol),” kenang Hadisah.
Fahmi juga selalu menceritakan tentang sejumlah pemain dunia yang telah dihapal di dalam benaknya, yang mendapat bayaran hingga 2 milyar per hari. “Loen akan lagee nyan entek mak (saya akan seperti itu nantinya mak),” cerita Hadisah mengingat niat anaknya. “Jadi saya berpikir ini kalau tidak didukung, pasti dia akan stress dan frustasi,” lanjutnya.
Itu sebabnya, ketika Fahmi lolos masuk Arsenal Development Centre, Hadisah merasa seperti mimpi. Ia tak pernah menyangka itu terjadi. Tak henti-henti dia mengucap syukur.
Jika kelak Fahmi terpilih masuk Akademi Arsenal, Hadisah mengaku akan merelakannya. “Saya ya sayang, berat juga, tapi demi cita-citanya saya ikhlas dan akan terus berdoa semoga mimpinya terwujud,” katanya.
Bahkan, Hadisah pun kini sudah punya rencana baru: belajar bahasa Inggris. "Lon neuk jak syit keudeh u Inggreh, neuk kalon si Ami meu'en bola (saya akan ke Inggris juga, mau lihat Ami main bola)." []
***
Di Kutip dari Harian Atjehpost.com


