Kira-kira 6 bulan Pasca tsunami, seorang bule keturunan Yunani pernah berkata –ketika kami sedang duduk di warung kopi yang penuh- bahwa orang Melayu umumnya dan orang Aceh khususnya mengingatkannya pada orang – orang di kampung halamannya.
Katanya di Yunani, Waktu serasa bergerak lebih lambat dibandingkan dengan Negara-negara lain di Eropa. Orang-orang di sana menghadapi hidup dengan santai, tidak terburu-buru dan rileks.
Tapi Itu katanya bukanlah merupakan manifestasi dari kemalasan, tapi disebabkan karena orang Yunani telah bosan dengan kejayaan, dan sekarang ini adalah waktu bagi mereka untuk bersantai dan memberikan kesempatan bagi bangsa-bangsa lain berlomba meraih peradaban tinggi.
Kurang lebih (mungkin) kenyataan itu juga sepertinya juga ada di Aceh:
‘Aceh pernah memiliki sebuah negara yang berbentuk Kerajaan dan mempunyai pengaruh besar di nusantara. Puncak kemegahan dan kejayaannya terlihat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kendali Kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai Barat Sumatra dan pantai Timur, sampai ke Asahan di Selatan. Pelayaran penaklukan dilancarkan jauh sampai ke Pahang, di pantai Timur Semenanjung Malaya, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaan Aceh adalah Kerajaan yang kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan yang tiada tara saat itu‘.
Kutipan bacaan sejarah itu rasanya telah terekam indah di benak (hampir) setiap orang aceh, di bicarakan mulai dari bangku-bangku sekolah sampai bangku-bangku warung kopi.
Warung kopi, ya..., sudah jamak diketahui hubungan chemistri antara orang (baca:laki-laki) Aceh dengan warung kopi. Warung kopi bukan lagi sebagai ruang publik, tapi telah menjadi entitas budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Bahkan salah satu ikrar yang cukup terkenal dari Teuku Umar untuk memberi semangat kepada para pengikutnya untuk merebut kota Meulaboh dari tangan kompeni adalah: “Besok pagi kita minum kopi di kedai meulaboh”. Namun sayang keinginan beliau tersebut tidak kesampaian karena harus lebih dahulu syahid setelah marsose Belanda menembaknya di pantai Suak Ujung Kalak, Meulaboh.
Kalau bisa dimasukkan ke dalam Guiness Book of Record barangkali secara rata-rata laki-laki di Aceh memiliki jam duduk paling lama di warung kopi. Sekedar ilustrasi kalau laki-laki (terutama di desa) bisa menghabiskan minimal 12 jam sehari di warung kopi kalau sedang tidak meladang atau melaut, ba’da subuh sampai menjelang zuhur (5 jam), sambung lagi ba’da ‘ashar sampai menjelang magrib (3 jam) sambung lagi ba’da ‘isya sampai tengah malam (4 jam).
Ini bisa jadi anomali: pemilik warung tidak pernah keberatan dengan sekelompok orang yang sama, duduk di meja yang sama, selama berjam-jam, dan hanya akan membayar beberapa gelas kopi seharga rata-rata Rp. 1.500 per- gelasnya
Apakah itu berhubungan lurus dengan rendahnya produktivitas? Barangkali ya, bisa jadi tidak. Coba kita simak kembali keheranan bule Yunani tadi: Dengan pola hidup seperti itu, toh perekonomian masyarakat Aceh tidaklah hancur lebur., walaupun relatif tak juga dapat dikategorikan makmur.
Setelah dianalisa secara lebih komprehensif oleh bule tersebut.., ternyata bagi laki-laki Aceh, duduk di Warung Kopi pun adalah bisa sekaligus ngantor alias bekerja alias mendatangkan uang. Pekerjaan yang jamak adalah sebagai agen alias makelar. Warung Kopi bisa dijadikan pula sebagai pusat informasi ketenagakerjaan dan peluang usaha. Bahkan lebih jauh Warung Kopi bisa dijadikan tempat untuk melobby jabatan dan Proyek. Dan ketika ada objekan atau bisnis yang gol, pemilik warung biasanya juga kecipratan rejeki.
Maka tidaklah mengherankan apabila para istri di Aceh jarang yang mempersoalkan kebiasaan para suami berlama-lama di warung kopi. Malah akan jadi cibiran masyarakat apabila ada laki-laki yang membandel tidak mau bersosialisasi di warung kopi.
Di sini pula letak kehebatan wanita Aceh, mereka tidak pernah mengeluh, tapi justru berperan aktif dalam menyangga perekonomian keluarga. Kala suami tidak melaut, mereka membuat terasi atau ikan asin. Kala suami tidak meladang, mereka membuat sulaman kasab atau anyaman atap rumbia. Harmonisasi tersebut menciptakan kerukunan, walaupun memang pola patriarki masih tetap mendominasi kehidupan masyarakat Aceh.
Bukan Simbol "Kemalasan"
Apapun pandangan orang luar terhadap tradisi minum kopi kita orang Aceh adalah sah-sah saja. Namun, perlu ada kajian yang lebih dalam untuk membuktikan tradisi kita di warung kopi adalah hal yang positif. Dari beberapa hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan, terungkap beberapa orientasi penghuni warung kopi di Aceh, misalnya; ke warung kopi sekedar candu ie kupi, cari internet gratis, nonton bola, sekedar nongkrong, berkumpul dengan teman-teman sejawat, rekan kerja dan sebagainya.
Disini terlihat bahwa tradisi minum kopi ini telah membentuk sebuah kultur budaya yang tidak jelas arahnya kemana, berbeda dengan tradisi di masa lalu yang seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, dimana tradisi minum kopi masyarakat Aceh ketika itu pada akhirnya menjadi cikal bakal bagian dari lahirnya peradaban Aceh yang elegan dan memiliki nilai sosial yang kuat.
Dari aspek historis, ternyata tradisi minum kopi di Aceh sudah ada sejak masa kerajaan Islam Aceh. Sebagian sejarawan meyakini tradisi ini merupakan budaya imporan dari Dinasti Turki Usmani(Khilafah Islamiyah) yang saat itu juga memiliki tradisi yang sama.
Kita ketahui bahwa Kerajaan Islam Aceh Darussalam dahulu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kekhalifahan Islam Turki Usmani, hubungan erat ini pula yang akhirnya menyebabkan terjadinya asimilasi (percampuran) budaya.
Tradisi minum kopi masyarakat Aceh di era sekarang ini merupakan bagian dari pertemuan Aceh dengan peradaban lama Turki Usmani yang Islam ketika itu, maka sangat relevan bila kemudian saya memilki inisiatif bagaimana agar pengaruh dari tradisi minum kopi di Aceh kita kembalikan ruhnya sebagai titik tolak bagaimana melihat perdaban Aceh masa depan berkaca pada peradaban awal Aceh yg telah bersentuhan dengan Turki Usmani sebagai ’Kekhalifahan Islam’ di masa lalu.
Dengan demikian, tradisi minum kopi dengan segala topik komunikasinya mestinya bisa diarahkan ke dalam wacana peradaban impian Aceh di masa depan dengan tetap berlandaskan pada frame (kerangka) dasar nilai-nilai Islam. Hal ini tentu sangat mudah dilakukan, mengingat fasilitas warung kopi di Aceh yang semakin lengkap setelah mayoritas warung kopi di Aceh menyediakan fasilitas internet(Wi-Fi) gratis bagi para pelanggan yang dengannya berbagai informasi penting bisa sangat mudah dan cepat didapatkan.
Dengan ini, remaja-remaja Islam di Aceh bisa melihat dunia dari meja warung kopi. Mereka juga tidak memiliki kendala jika hendak beribadah di warung kopi, sebab, meskipun saat ini warung kopi di Aceh didirikan jauh dari mesjid namun disana menyediakan mushalla. Begitu juga diskusi-diskusi yang sangat berkembang disana mestinya bisa lebih terarah ke hal-hal yang positif dan produktif, jadi warung kopi bukan lagi sebatas tempat nongkrong menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat tanpa makna yang bahkan justru akan menyemarakkan Aceh sebagai serambi Mekah yang sedang membangun peradaban Islam baru.
Dengan mengembalikan kembali ruh tradisi ’warung kopi’ kita seperti sedia kala serta merevitalisasi fungsinya, niscaya berbagai persepsi miring orang luar yang selama ini memandang warung kopi sebagai ’simbol kemalasan’ orang Aceh niscaya akan terbantahkan dengan sendirinya. Jika ’tidak’ mungkin persepsi miring tadi akan menjadi fakta yang tak akan pernah terbantahkan.
Tapi tentu saja waktu yang bergerak lambat akan berpotensi untuk menciptakan ketertinggalan, ketertinggalan akan menciptakan kecemburuan, kecemburuan akan menciptakan konflik. Untuk itu sah-sah saja apabila Masa lalu menjadi kebanggaan dan Warung kopi menjadi bagian dari gaya hidup, asal kedua-duanya tidak menguasai hidup dan menghancurkan masa depan.
***
Ref :
- teukunovian.multiply.com
- baleemukim.blogspot.com


