Dakwah Islam di Kota Newcastle


Oleh TEUKU MUKHRIZA

ALHAMDULILLAH, sejak tahun 2012 saya diberikan langkah untuk melanjutkan studi doktoral saya kembali di Kota Newcastle, Inggris. Para pecinta Liga Premier tentunya tidak asing dengan kota di timur laut Inggris ini dengan klub kebanggaan mereka Newcastle United ini.

Penduduk kota ini cukup ramah dan hangat terhadap warga asing, meskipun dari sisi bahasa aksen lokalnya termasuk paling susah dimengerti. Tidak salah apa yang dikatakan teman saya bahwa makin ke utara Inggris makin jauh standar bahasa Inggrisnya dari BBC, namun justru penduduknya kian ramah.

Menemukan makanan halal di kota ini tidaklah sesulit yang saya bayangkan, karena ternyata komunitas muslim menyumbang 4% atau 4.000-an orang dari populasi penduduk tetap. Salah seorang imam masjid Kampus Newcastle University mengutarakan kepada saya bahwa ketika dia tiba di kota ini tahun 1970-an tidak ada satu pun masjid. Namun, sekarang sudah ada tujuh masjid.

Newcastle University sendiri menyediakan ruangan dua lantai untuk pelajar muslim yang dijadikan masjid di area kampus. Komunitas pelajar muslim di Newcastle University tergabung dalam organisasi Islamic Society (ISOC) dan dipercaya mengurus masjid kampus.

Perkembangan Islam cukup pesat di negeri Ratu Elizabeth ini. Jumlah muslim meningkat hampir dua kali lipat pada dekade terakhir dari 1,6 juta orang menjadi hampir 3 juta orang. Namun, publikasi media yang tidak berimbang membuat imej Islam di kalangan sebagian orang Eropa sebagai agama yang suka berperang dan menindas kaum perempuan. Untuk meluruskan pandangan tersebut, setiap tahunnya ISOC mengadakan acara “Discover Islam Week” yang pada tahun 2013 ini diselenggarakan pada akhir Februari.

Di dalam sebuah tenda besar berukuran 20 x 10 m, ISOC memajang poster-poster berisi informasi tentang Sejarah Islam dan Nabi Muhammad saw, bagaimana kedudukan Yesus dan Maria dalam Islam, perang dalam Islam, kedudukan wanita, ilmuwan-ilmuwan Islam, dan isu-isu penting lainnya.

ISOC juga menyediakan buku-buku gratis tentang Islam dan Alquran terjemahan kepada pengunjung. Di luar tenda, relawan ISOC membagikan selebaran kepada orang yang berlalu lalang dan mengajak mereka masuk ke dalam tenda. Untuk menarik pengunjung, ISOC juga menyuguhi makanan gratis khas Timur Tengah, samosa dan berbagai makanan kecil lainnya. Pengunjung juga dapat meminta dibuatkan riasan daun pacar arab di tangan mereka dan kaligrafi nama mereka di dalam tenda. Relawan muslimah juga dengan sigap memasangkan jilbab kepada nonmuslim yang ingin melihat wajahnya dalam balutan hijab.

Di sela-sela kesibukan kampus, saya sempatkan diri menjadi relawan dengan membagikan brosur, membersihkan sampah, dan terkadang berbincang dengan pengunjung yang ingin tahu tentang Islam. Sebuah tantangan cukup berat bagi saya untuk menjelaskan isu-isu kritis dalam Islam secara logika dan sudut pandang yang dapat diterima oleh nonmuslim Inggris dan dalam bahasa Inggris pula. Terkadang saya harus minta bantuan relawan lain untuk menjelaskan lebih sempurna.

Acara ini diisi dengan pesan singkat tentang Islam setiap pukul 1 siang dan kisah mualaf asli Inggris setiap sorenya. Dalam kegiatan tersebut saya berbincang dengan Luke, warga Inggris yang masuk Islam dalam acara ini setahun lalu. Dibesarkan dengan tradisi Kristiani, tapi Luke mulai mempelajari konsep ketuhanan dalam Islam ketika tinggal serumah dengan seorang muslim dari Pakistan. Butuh tiga tahun baginya untuk benar-benar meyakini kebenaran Islam.

080313_8.jpg
TEUKU MUKHRIZA
Ia juga menambahkan bahwa warga Inggris yang tak percaya lagi dengan agama asalnya dan tidak melakukan pencarian lain, justru beralih menjadi ateis.

Setelah seminggu acara ini digelar, alhamdulillah 16 orang mengucapkan syahadat, menjadi muslim dan puluhan lainnya mulai tergerak mencari kebenaran dalam Islam. Islam akan bersinar di Benua Biru ini. Discover Islam Week meninggalkan pertanyaan besar pada diri saya, akankah saya menemukan kebenaran seperti halnya Luke bila saya tidak terlahir sebagai muslim?

Dosen Fakultas Teknik Unsyiah, PhD Student Newcastle University, 
melaporkan dari Inggris

Like → Tweet :
Join → Follow :
Previous Post Next Post