Pejuang Suriah Tegaskan Bersatu karena Allah


Tidak mudah menemukan laporan media mengenai kondisi Suriah yang sesungguhnya, bukan saja karena penindasan terhadap media massa oleh rezim Basyar di dalam Suriah sementara dari luar Suriah, media Barat memaksakan agenda mereka sendiri dalam berita-berita mereka.

Allah menetapkan bahwa dalam kondisi sedemikian buruk pun, para pejuang dan aktivis penentang rezim Basyar al-Assad masih bisa tetap memakai peralatan komunikasi – terutama handphone berkamera – sehingga dunia luar masih bisa dapat memantau terus apa yang tengah terjadi.

Kebanyakan video dan berita via Twitter yang muncul di internet selama bulan-bulan pertama revolusi Suriah adalah tentang berjatuhannya korban demi korban kebrutalan kakitangan Basyar al-Assad, termasuk rekaman pembunuhan terhadap sejumlah perempuan di dalam satu keluarga dan ratusan mayat yang dibantai pasukan Basyar di al-Houla tahun lalu.

Selama beberapa bulan terakhir ini, semakin banyak rekaman keganasan para syabiha – preman-preman dan kakitangan Basyar al-Assad – yang diunggah ke Internet. Termasuk di antara video itu adalah rekaman tiga remaja laki-laki yang ditangkap, diikat lalu disembelih oleh tentara Basyar di Joubar. Di hampir semua rekaman kekejaman luar biasa Basyar itu selalu terdengar seruan keras atau bisikan lirih si pembuat video, “Allahu akbar ‘alaika ya Basyar! Allah Mahabesar, laknat atas engkau ya Basyar!”

Namun pada saat yang bersamaan sudah semakin banyak pula rekaman keberhasilan para pejuang pembebasan Suriah, Free Syrian Army atau Jaysul Hur, di berbagai kawasan. Bukan saja mereka berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat tempur dan helikopter perang Basyar, tapi juga menguasai pangkalan-pangkalan militer.

Perkembangan ini kemudian diikutilah oleh sejumlah media Barat yang menggambarkan para pejuang sebagai kelompok yang terpecah-pecah, dan saling bersaing di antara mereka sendiri. Hal ini terjadi bersamaan dengan sikap Amerika dan berbagai negara Barat lainnya yang semakin menunjukkan ketidakrelaan mereka bahwa sesudah jatuhnya Basyar al-Assad, Suriah akan dipimpin oleh kaum Muslimin sendiri.


Mula-mula Washington menyatakan bahwa salah satu kelompok pejuang di dalam Suriah, Jabhah al-Nusrah, sebagai kelompok teroris. Oleh masyarakat Suriah, tudingan ini dibantah dan mereka turun ke jalan-jalan menyatakan dukungan mereka terhadap Jabhah al-Nusrah dan para pejuang pembebasan lainnya. Kemudian, jawaban para pejuang sendiri terhadap tudingan bahwa mereka terpecah belah, adalah ini: Lihat tautan: disini.

Di dalam video yang diunggah ke Youtube ini para komandan dari berbagai brigade berkumpul menyatakan bahwa mereka bersatupadu di bawah kalimat Laa ilaha illallah dalam berjuang melawan rezim penjahat al-Assad dan membebaskan Suriah. Upacara itu diawali dengan pembacaan ayat Allah dalam Surah Ali-‘Imran: 103,

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai; dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu Dia (Allah) menjinakkan hati kamu sehingga kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya (nikmat Allah), padahal (dahulunya) kamu berada di pinggir lubang neraka, lalu Dia (Allah) selamatkan kamu.”

Juga dibacakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tentang betapa ‘tangan’ Allah ada di atas Jama’ah.

Masih ada satu lagi video yang menyenangkan untuk dilihat, para pejuang sedang shalat Maghrib. Lihat tautan.

Pemasangan video itu disertai catatan: “Pemandangan yang menggetarkan hati. Pimpinan Brigade Al-‘Umari an-Naqib “Qais Al-Qatthaa’anah shalat Maghrib bersama semua anggota pasukannya sebelum berangkat ke salah satu operasi penyerangan. Ya Allah, teguhkanlah kami di atas agamaMu dan karuniai kami kemuliaan dengan kemenangan yang dekat atas orang-orang zhalim dan pembuat kerusakan.”

ISLAMPOS | ATC
Like → Tweet :
Join → Follow :
Previous Post Next Post