“Selama hidup saya, saya tidak akan pernah menjadi orang lain selain menjadi orang Aceh.”
Aceh bagi Rafiqa Soraya bukanlah negeri antah berantah. Meski lahir dan besar di Medan, Rafiqa sering mendapat mendapat cerita tentang budaya sejarah Aceh dari ayahnya yang berasal dari Simpang Ulim, Aceh Timur.
Karena darah Aceh itu pula, Soraya memberanikan diri mendaftar sebagi wakil Aceh ketika audiensi Miss Indonesia 2012 di Medan beberapa waktu lalu. Beruntung, gadis yang pernah menjadi Dara Persahabatan Medan pada 2009 itu, lolos ke grand final mewakili Aceh.
Aya, adalah sapaan akrab dara kelahiran 17 April 1991, kini mahasiswi jurusan Bahasa Inggris Universitas Medan (Unimed) terpilih menjadi finalis Miss Indonesia 2012 lewat seleksi yang dilaksanakan di Jakarta bulan Februari 2012.Ketika namanya tersiar di berbagai media, termasuk di jejaring sosial, beragam komentar bermunculan, termasuk dari kalangan masyarakat Aceh.
Saat ditanya apakah dia sudah siap menghadapi ‘serangan’ dari masyarakat Aceh yang menganggap kontes-kontesan, termasuk pemilihan Miss Indonesia sebagai sesuatu yang tidak perlu, malah ada pandangan ekstrem yang menyebut sebagai bentuk mengeksploitir perempuan, Aya tak bersedia mempolemikkan itu karena dia sendiri belum mengenal secara mendalam seluk beluk ajang Miss Indonesia.
Sebagai dara yang mewarisi darah Aceh, Soraya rupanya memendam obsesi untuk memajukan perempuan Aceh. Di kampung halaman ayahnya di Simpang Ulim, Aya melihat perempuan-perempuan perkasa yang menurutnya punya potensi, namun terkendala akses informasi.
"Potensi itu terpendam karena masih banyak perempuan Aceh yang belum mendapatk informasi cukup. Contohnya, di kampung Aya saja internet saja masih susah," kata Soraya yang akrab disapa Aya.
Karena itu pula, jika terpilih mewakili sebagai Miss Indonesia kelak, Aya ingin turun ke daerah-daerah memberdayakan kaumnya seperti yang pernah dilakukan Cut Nyak Dhien.
Bagi Aya, Cut Nyak Dhien adalah lentera sekaligus inspirasi hidupnya. "Aya salut dengan perjuangannya memberontak dan mengusir Belanda. Benar-benar pahlawan luar biasa," kata gadis yang sedang dicalonkan menjadi Sekretaris Umum di Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Unimed ini.
Setiap pulang ke Aceh, Aya juga sering berdecak kagum ketika melihat kehidupan anak muda di pedesaan. "Aya melihat masih banyak anak-anak muda yang mau mengaji di rumah. Sepertinya damai banget.”
Suasana itu, kata Aya, jarang ditemukan di kota besar. Hidup di kota besar seperti Medan menurut Aya memang harus pandai-pandai menjaga pergaulan, untuk menghindari pergaulan negatif Aya banyak melibatkan diri di organisasi salah satunya adalah di Himpunan Jurusan di kampusnya. "Kalau sudah sibuk dengan organisasi kita jadi lupa sama hal-hal yang negatif," ujarnya.
Tinggal di Medan yang heterogen tidak membuat Aya melupakan tanah leluhur ayahnya. Bahkan untuk menambah wawasannya tentang Aceh ia rajin browsing internet. Berkaitan dengan keikutsertaannya dalam kontes Miss Indonesia 2012, Aya bahkan sengaja beli buku tentang Aceh dari Gramedia.
"Buya Aya sering cerita tentang makanan khas Aceh yang unik-unik, kayak pembuatan gulai pliek u, gulai asam keueng, juga tentang suku dan budaya Aceh," kata mahasiswi semester empat jurusan Bahasa Inggris Universitas Medan ini.
Darah Aceh Aya mengalir dari ayahnya Drs. Azhar Umar M. Pd yang berasal dari Lubuk Pidie, Simpang Ulim, Aceh Timur. Sedangkan ibunya Dra. Saflaini berasal dari Padang, Sumatera Barat.
Meski tinggal di Medan Aya tidak asing dengan kampung halaman ayahnya itu, karena setiap lebaran atau libur semester ia selalu pulang ke Simpang Ulim. Karena semua keluarga pihak ayahnya berada di sana. “Terakhir pulang ke Aceh bulan Februari kemarin,” kata Aya, Sabtu malam, 31 Maret 2012.
Karena itu, kata Aya keikutsertaannya dalam ajang bergengsi tersebut merupakan obsesinya untuk memperkenalkan Aceh ke tataran Nasional, bahkan jika bisa ke Internasional. Menurutnya Aceh memiliki potensi yang besar seperti pariwisata, budaya, dan sumber daya alamnya yang perlu diketahui oleh masyarakat luar.
Janji Aya tetap Berjilbab
“SAYA memberanikan diri mewakili Aceh di ajang Miss Indonesia 2012, karena saya memang berdarah Aceh dan saya bangga mewakili Aceh. Melalui cara ini saya ingin mengangkat harkat wanita Aceh di tingkat nasional.” Jawaban lugas tersebut ditulis Aya dalam surat elektronik terkait keberhasilannya terpilih sebagai wakil Aceh ke ajang Miss Indonesia 2012 (serambi).“Selama hidup saya, saya tidak akan pernah menjadi orang lain selain menjadi orang Aceh,” tandas dara kelahiran Medan yang akrab dipanggil Aya, ini.
Aya pun tampaknya mafhum bahwa Aceh adalah negeri Serambi Mekah, kemungkinan besar nanti ia akan mengenakan kerudung selama masa karantina pada 15 April hingga grand final tanggal 28 April.
“Kalau terpilih nanti Insya Allah tetap akan pakai kerudung,” kata penyuka novel Ayat-ayat Cinta ini.
“Mohon dukungan dan doa restu seluruh masyarakat Aceh dan Indonesia,” ujar Aya yang ketika dihubungi kemarin sedang berada di Bandung dalam rangkaian persiapan dan pemantapan pengetahuan tentang daerah masing-masing menjelang masuk karantina pada 15 April 2012.
Biodata:
Nama: Rafiqa Soraya Azhar
Sapaan: Aya
Lahir: Medan, 17 April 1991
Agama: Islam
Pendidikan: Bahasa Inggris Unimed
Hobi: Modelling, travelling, membaca
Cita-cita: Wanita karier
Tinggi/berat: 169/50
Ayah: Drs Azhar Umar M.pd
Ibu: Dra Saflani Munir
Alamat: Jl. Datuk, Pasar tiga, Medan
Prestasi:
Dara Persahabatan Medan (2009)
Finalis Model Aneka Yess (2009)
Juara II New Indonesian Model (2008)
Sumber : [ATJEHPOST/SERAMBINEWS]
