REPUBLIKA.CO.ID, Menghadapi ancaman serangan, Iran memastikan diri bakal siap menghadapi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ramin Mehmanparast, menegaskan, kemampuan militer Iran yagn siap menghadapi serangan apa pun.
''Saat ini Iran memiliki kekuatan militer terhebat sepanjang sejarah kami. Siapa pun yang akan menyerang negara kami akan menghadapi respons tegas,'' ujar Mehmanparast pada wartawan di Warsawa.
Dia pun menambahkan musuh Iran sudah memahami kenyataan ini dan berusaha keras untuk menghapus kemungkinan pecah perang. ''Musuh kami paham jika menyerang kami, mereka akan menjadi subjek dari tragedi hebat. Karena itulah kemungkinan perang sangat, sangat kecil,'' ujarnya. (presstv)
"Barat akui Kekuatan Militer Kami"
Seorang pejabat tinggi militer Republik Islam Iran mengatakan, Barat telah mengakui peran berpengaruh Iran dalam perkembangan regional.
Mayor Jenderal Tabatabaei, Wakil Direktur Badan Intelijen Angkatan Bersenjata Iran mengatakan, alasan mengapa Barat kembali ke meja perundingan dengan Tehran adalah Barat telah menyadari peran berpengaruh Iran dalam persamaan regional, khususnya perkembangan terakhir di dunia Arab.
Dia menambahkan, kepemimpinan Republik Islam, persatuan nasional dan kesiapan penuh Angkatan Bersenjata Iran sebagai alasan utama yang menghalangi Barat untuk mempraktikkan ancaman berperang terhadap Iran.
Amerika Serikat, lanjut Tabatabaei, selalu mengejar doktrin hegemoninya selama ini dan perkembangan internasional dalam beberapa dekade terakhir, termasuk perang Afghanistan dan Irak, berasal dari prinsip tersebut.
Pejabat tinggi militer Iran itu juga menyinggung tentang status tinggi Iran dalam bidang intelijen dan menilai bahwa Iran mengenal musuh dengan baik melalui pemantauan intelijen.
Iran dan enam kekuatan dunia (Inggris, Cina, Perancis, Rusia, Amerika Serikat ditambah Jerman/kelompok 5+1) telah mengadakan putaran pembicaraan baru di kota Istanbul, Turki pada 14 April.
Teheran menyambut dimulainya kembali pembicaraan berdasarkan landasan umum dan menjelaskan tidak akan bernegosiasi terkait setiap hak fundamentalnya. (irib/irna)
