ORANG berbondong-bondong menuju panggilan sang muazin, tua muda mulai berdatangan mengisi shaf-shaf terdepan. Sebagian membaca buletin Jumat, sebagian melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid. Penulis duduk di shaf terdepan menunggu panggilan takmir (pengurus), sebagai khatib masjid Miniatur Baiturrahman Aceh di Bantul, Yogyakarta.
Mesjid ini berdiri beberapa tahun yang silam di Desa Nirmolosari, di pinggir jalan menuju Parang Tritis. Masjid yang dibangun Pemerintah Aceh ini menyerupai Masjid Raya Baiturrahman Aceh.
Dua tahun paska gempa dan tsunami di Aceh, Tahun 2006 gempa dasyat melanda wilayah Yogyakarta menghancurkan infrastruktur di wilayah tersebut termasuk bangunan bangunan masjid yang ada. Sebagai bentuk solidaritas, pemerintah Provinsi Aceh membangun masjid di wilayah kabupaten Bantul. Sebuah bangunan masjid yang sangat elok dan begitu menarik karena sengaja dibangun sebagai kembaran Masjid Baiturrahman di Banda Aceh dengan ukuran yang lebih kecil.
Masjid itu selalu dipenuhi jamaah setiap waktu shalat. Banyak mahasiswa Aceh yang mengunjungi masjid ini untuk menghilangkan rasa kangen akan kampung halaman.
Yang sangat penulis ingat adalah Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang didirikan ratusan tahun silam, tetap berdiri kokoh meski digoyang gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Ini pula yang membuat banyak masyarakat Yogyakarta takjub. “Itu benar-benar kekuasaan Allah”.
Masjid Miniatur Baiturrahman juga diisini dengan beragam kajian Islam, baik itu pembahasan kitab-kitab Fiqh klasik maupun mengkaji Islam aktual. Snack yang sangat sederhana dibagikan oleh takmir mesjid untuk para peserta kajian. Memang menurut pengamatan penulis, semangat masyarakat Jawa dalam mempelajari Islam (khususnya di mesjid ini) sangat menggebu-gebu.
Masjid ini selalu dipenuhi para jamaah. Apalagi di bulan Ramadhan. Masjid ini jadi “incaran” mahasiswa untuk menghadiri buka bersama, hitung-hitung menghemat pengeluaran.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan hendaknya masyarakat Aceh memenuhi masjid-masjid untuk beribadah. Perlu keterlibatan pemuda dalam mengaktifkan masjid. Di Jawa, masjid-masjid yang pernah penulis singgah, selalu dimenej oleh kaum muda.
***
OLEH ADNAN, Mahasiswa S1 Dakwah Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta melaporkan dari Yogyakarta, Rubrik Citizen Serambi Indonesia.



