Dia yang tampak lemah di bawah perlindungan cangkang tipis dengan gaya jalan pelan tersaruk-saruk, di musim turun ke sawah seperti ini kembali menunjukkan gaya gebraknya hingga para petani yang notabene adalah orang-orang perkasa di tengah kalangan manusia, kalang-kabut dibuatnya.
Gara-gara dia, ada petani yang harus menyemai padi dua kali di setiap musim tanam. Itu berarti sekira tigaratus ribu—bisa lebih sesuai jumlah besaran areal—melayang sia-sia. Belum lagi terhitung tenaga dan waktu.
Agaknya masih lumayan kalau padi yang melayang itu masih berupa bibit di areal persemaian atau neuduek. Tapi coba kalau itu padi yang sudah ditanam; berapa kerugiannya; dari biaya beli bibit dan ongkos tanam, sesudah itu ditambah lagi dengan kekalangkabutan mencari bibit semaian yang seusia di areal persawahan desa lain. Bayangkan.
Keong mas memang gawat. Dia memakan tanaman padi bagai kambing merumput. Untuk menghambat keganasannya masyarakat petani di kawasan Gampong Blang Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie biasanya melakukan pengaturan debit air dalam petakan sawah.
Cara ini tergolong efektif dibandingkan pertisida yang hingga saat ini belum ada yang benar-benar mampu membasmi hama siput tersebut secara tuntas.
Pengaturan debit air dilakukan dengan cara tidak membiarkan air tergenang dalam petakan sawah lebih dari sekedar setengah ruas jari di atas permukaan tanah. Ukuran ini hanya sebagai barometer untuk menandai bahwa simpanan air di bawah permukaan tanah masih padat. Pengontrolan seperti itu dilakukan terus-menerus selama tanaman padi dalam usia muda dan batangnya belum mengeras.
Jika air tidak tergenang dalam petakan sawah, siput hama tersebut hanya mengendap di kedalaman lumpur dan tidak berjalan ke mana-mana. Ini adalah kesempatan tanaman padi untuk tumbuh. Kalau air dibiarkan tergenang, keong mas bebas melenggang dan memakan batang padi yang belum keras itu sesuka-suka.
Tapi dalam kondisi hujan tidak menentu seperti saat ini, debit air dalam petakan sawah tidak dapat diatur, makanya bibit padi yang baru tumbuh dalam petakan neuduek selalu sempat dimakan siput itu. Hanya air yang bersumber dari tali air yang dapat diatur debitnya.
“Memang untuk musim tanam tahun ini di areal persawahan kami agak berkurang serangan koeng mas. Kami tidak tahu kenapa, yang jelas bukan karena hasil kerja penyuluh pertanian. Sedangkan pada musim-musim tanam yang lalu sangat gencar.
Tapi yang saya tahu saat ini, di sawah-sawah kawasan lain di seluruh Pidie serangan keong mas luar biasa,” kata Ibrahim Samadi, petani yang juga Tuha Peut Gampong Kabat Seupeng, Kemukiman Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie kepada Harian Aceh, Selasa (10/1).
Tapi yang saya tahu saat ini, di sawah-sawah kawasan lain di seluruh Pidie serangan keong mas luar biasa,” kata Ibrahim Samadi, petani yang juga Tuha Peut Gampong Kabat Seupeng, Kemukiman Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie kepada Harian Aceh, Selasa (10/1).
Menurut Ibrahim Samadi, Pemerintahan Kabupaten Pidie, terutama dinas terkait, harus sangat respek terhadap segala keluhan masyarakat petani bahkan sampai menyangkut serangan keong mas. Petugas-petugas penyuluh pertanian di kecamatan harus bekerja keras memberikan apa yang terbaik untuk petani di kampung-kampung.
“Soalnya, walau dianggap berlebih-lebihan, saya berani mengatakan, Pidie ini masih ada hingga hari ini semata-mata karena masih ada petani yang turun ke sawah. Kalau tidak, mungkin kita sudah dua tahun lalu harus bergabung dengan Pidie Jaya,” pungkas dia. [■Musmarwan abdullah, Harian-Aceh]
