
“Di sana kami diajari banyak hal. Terutama yang berkenaan dengan arah kehidupan yang akan kami jalani ke depan. Pada dasarnya, kami senang dibina di sana. Tak ada kekerasan sedikit pun. Kakak pembina itu terlihat begitu perhatian dan sayang pada kami...”
Wahyu Kamarullah, salah seorang anak punk asal Sigli, Pidie yang ikut dibina sepuluh hari (13-23 Desember 2011) di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, mengemukakan tekadnya. “Sesampainya ke kampung halaman, saya tak ingin kembali ke dunia punk. Pulang dari sini, saya ingin sekali bekerja.”
Wahyu menyatakan hal itu kepada Serambi saat berada di antara remaja binaan (mantan punker) lainnya di Aula Balai Kota, Banda Aceh, Jumat (23/12). Sore itu mereka diberi arahan oleh berbagai pihak terkait, di antaranya Pemko Banda Aceh dan ulama.
Remaja kelahiran Sigli 21 September 1992 itu menyatakan bahwa dirinya bergabung dengan komunitas punk delapan bulan lalu. Ia juga mengenakan beberapa aksesoris khas anak punk.
Cuma, menurut Wahyu, rambut mohawk-nya tidak dicat warna. “Saya juga tidak mau ditato, karena diharamkan Alquran. Kalau tindik kuping ada, tapi hanya sebelah,” sebutnya.
Remaja yang bermukim di Desa Kramat Luar, Sigli ini menyatakan selama dibina di SPN Seulawah ia mendapat banyak hal positif. “Di sana kami diajari banyak hal. Terutama yang berkenaan dengan arah kehidupan yang akan kami jalani ke depan. Pada dasarnya, kami senang dibina di sana. Tak ada kekerasan sedikit pun. Kakak pembina itu terlihat begitu perhatian dan sayang pada kami,” ungkap Wahyu.
Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin dalam sambutannya saat menerima punker itu mengatakan, pemko akan melanjutkan pembinaan khusus kepada 13 anak punk asal Banda Aceh.
“Sedangkan anak-anak luar Banda Aceh, kami fasilitasi untuk pulang ke daerah masing-masing, termasuk yang ke Pulau Jawa. Kami harap pemkab/pemko lainnya di Aceh juga melanjutkan pembinaan terhadap anak-anak ini,” kata Mawardy.
Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa‘aduddin Djamal selaku moderator dalam diskusi itu, mengatakan bentuk pembinaan terhadap 13 punker asal Banda Aceh akan melibatkan psikiater dan ulama.
“Nanti anak-anak punk ini minimal seminggu sekali kita bina di satu tempat. Apa keinginan mereka kita penuhi, selama tidak melanggar syariat Islam di Aceh, termasuk keinginan bermain musik tidak kita larang,” kata Illiza.
Hal yang sama juga disampaikan anggota DPRK Banda Aceh, Surya Mutiara, sehari sebelumnya.
Kemarin, sebelum diserahkan kepada orang tua masing-masing dan dipulangkan ke kampung asal menggunakan bus hingga ke Medan, Sumatera Utara, para orang tua anak-anak punk, tokoh masyarakat, serta punker berdiskusi.
Punker bebas menyampaikan unek-uneknya. Mereka yang berkesempatan mengucapkan terima kasih kepada Pemko Banda Aceh, Kapolda Aceh, dan terutama kepada para polisi dan polwan pembina di SPN Seulawah. Mereka mengaku dididik ilmu agama serta kedisiplinan dengan sangat baik selama sepuluh hari di SPN Seulawah.
Lagu untuk mama
Seorang anak punk asal Binjei, Sumut, M Syukri Dinihar Sijabat (24) tersinggung ketika mereka dinilai sebagai anak-anak bandel yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Karena itu, ia meminta mereka diberi kesempatan menyanyikan Lagu untuk Mama yang mereka cipta saat dibina di SPN Seulawah.
Nyanyi bareng tersebut dipimpin Rian Riski Ramadhan (18), punker asal Banda Aceh. Saat Rian nyanyi, tidak cuma ibunya, Soraya, tampak haru, tapi juga hampir semua hadirin, tak terkecuali Illiza. Nyanyian itu diselingi suara gitar yang dimainkan seorang anak punk.
Di akhir acara, punk pria yang sudah berambut pendek, mengenakan baju koko, serta memakai sepatu PDL polisi, satu per satu dipanggil mengambil sertifikat remaja binaan SPN Seulawah. Begitu juga anak punk perempuan yang sudah berjilbab dan memakai sepatu PDL polisi.
Masing-masing mereka diberikan uang saku Rp 200.000. Selanjutya, pukul 18.00 WIB mereka naik Anugerah. Bus itu mengantar anak punk hingga ke Medan, sesuai daerah asalnya. Untuk anak punk dari Lampung dan Pulau Jawa diberi Pemko Banda Aceh tiket pesawat. Mereka pulang ke kampungnya melalui Bandara Polonia, Medan.
Diskusi dengan para punker kemarin, antara lain, dihadiri Ketua MPU Aceh Prof Dr Muslim Ibrahim, Ketua MPU Banda Aceh, Tgk Karim, Ketua DPRK Banda Aceh, Yudi Kurnia SE dan Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay. Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo juga hadir. (Serambi Daily)
Baca Juga :
- Mau Jadi Punk Aceh? Jadilah Punk Islami
- Anak Punk di Bebaskan
- “...Dan Punk Pun Menangis”
- Soal Punk Aceh, “Punk Muslim” Angkat Bicara
- Punk, Senandung Komunitas yang Tersandung di Negeri Syariat