Serba “Medan”


Ada sebuah komentar yang agak nakal, namun sering kita dengar “Senin hingga Jumat, Telor Medan masuk Aceh, Sabtu-Minggu, Telor Aceh masuk Medan”. Maaf saya mungkin tidak memahami isi komentar ini. Tentu, yang menulis tahu apa pesan yang di ada dalamnya.

Diyakini ada ribuan masyarakat Aceh menghabiskan akhir pekannya di Medan dengan berbagai cara. Meskipun belum ada data resmi soal lalu lintas warga Aceh ke Medan saban pekan, Selain menikmati hiburan, banyak juga yang menyempat diri berbelanja berbagai kebutuhan rumah tangga yang harganya tentu lebih murah dibandingkan di Aceh.

Kota Medan memang menjadi tujuan utama warga Aceh menghilangkan rasa penat. Kondisi keamanan yang sudah kondusif dan didukung jalur transportasi yang lancar, mendorong warga Aceh menghabiskan uangnya di ibukota Sumatera Utara. Apalagi, letak geografis yang sangat mudah dijangkau membuat orang tertarik ke Medan. 

Pemerintah daerah Sumatera Utara terutama Kota Medan memang sangat menikmati arus warga Aceh menghabiskan uangnya di daerah mereka. Sehingga berbagai kemudahan pun ditawarkan untuk para pendatang termasuk suguhan hiburan.

Ini Medan, Bung!

Ungkapan ini pernah populer beberapa waktu lalu. Bahkan ungkapan ini sempat digunakan sebuah perusahaan rokok untuk menggaet warga Medan. Saya belum mendapatkan informasi tentang munculnya ungkapan ini. Apakah untuk menegaskan kondisi kota Medan dengan berbagai kemudahan atau sekadar mengingatkan orang bahwa Medan adalah kota besar yang tentunya berbeda dengan kota tetangganya, termasuk Aceh atau Pekanbaru.

Bukan hanya pemerintah, publik Medan juga merasakan mendapatkan berbagai keuntungan dengan tingginya kunjungan warga Aceh ke tempat mereka. Paling tidak produk atau industri Medan berjalan lancar dengan banyak konsumen yang datang. Maka, jangan heran jika hampir seluruh kebutuhan Aceh ditentukan Medan.

Bahan kebutuhan pokok sudah pasti disuplai dari Medan. Beras hingga ikan teri dan makanan ringan didatangkan dari Medan. Kebutuhan hidup lainnya juga dipasok dari Medan. Apakah itu bahan bangunan, kudapan atau sayur mayur, seluruhnya harus dikirim dari Medan. Padahal, lahan pertanian di Aceh tak kalah suburnya dibandingan lahan dipropinsi tetangga. Minyak goreng menunggu kiriman Medan, kendati di Aceh terhampar kebun sawit mulai dari pantai barat dan pantai timur hingga perbatasan Sumut.

Cangkul dan parang serta perabotan juga dipasok dari Medan. Tidak cukup waktu untuk menggambarkan ketergantungan Aceh dengan Medan. Ketergantungan bukan karena tak ada infrastruktur di Aceh tapi juga karena karakter Aceh yang lebih senang “duduk manis” di warung kopi daripada harus bekerja keras.

Beragam tukang harus didatangkan dari luar daerah karena disiplin kerja dan tanggung jawab orang Aceh dinilai masih lemah. Juga karena upahnya mahal serta susah diatur. Dalih inilah yang membuat masyarakat kita susah bersaing dengan masyarakat lain. Ungkapan “daripada singet, ro beu abeh” artinya, daripada dapat sedikit, lebih bagus tak usah dapat. Begitulah harga diri dan karakter suku Aceh berjalan dari masa ke masa.

Terjebak

Masyarakat Aceh tidak atau kurang menyadari adanya strategi memelihara ketergantungan kepada orang lain. Dunia bisnis Medan, diakui atau tidak sengaja memudahkan berbagai proses untuk menyedot uang warga Aceh ke tempat mereka. Dengan cara kredit kenderaan yang sangat mudah, fasilitas yang serba lengkap dan diciptakan kondisi yang memungkinkan Aceh tetap harus menanti belas kasihan Sumut.

Prinsip Swadesi yang pernah diterapkan Mahatma Gandhi di India ternyata tak bisa dijalankan di Aceh. Swadesi atau mengatur diri sendiri tak jaln karena tak ingin dijalankan. Terlalu banyak birokrasi yang menghambat Aceh. Kita tak sadar, berbagai faktor ini ternyata menguntungkan Sumut. Media pun tak meyadari jika adanya penyelundupan beberapa karung gula dibesar-besarkan di Aceh. 

Padahal, ada misi tersembunyi bahwa dengan masuk gula di Aceh, tentu para produsen dan distributor di Medan dirugikan. Mungkin masih ingat, IMT- GT yang sudah puluhan tahun, ternyata hingga saat ini Sumut menikmatinya. Makin lama lengah, makin lestari ketergantungan, maka Aceh akan gigit jari alias janji penonton. 

Jika selama ini berbagai pasokan kebutuhan pokok, saya khawatir nantinya masyarakat Aceh jadi “masyarakat Medan”. Artinya, serba Medan dan identitas Aceh pun secara perlahan akan tinggal kenangan. Semoga tidak.

Ref: Serba medan, Serambinews.com

Post a Comment

Previous Post Next Post