Nesya, Bocah Kelainan Jantung Harapkan Uluran Tangan Kita


Keceriaan dan kebahagiaan yang biasanya menghiasi dunia mereka, tiba-tiba saja terenggut oleh penyakit ganas yang menghalangi pertumbuhannya. Sayang dia masih kecil dan tak mampu mengungkapkan penderitaanya.

Putry Nesya, 7, bocah perempuan yang sebelumnya memiliki tubuh normal, tiba-tiba kurus, tubuhnya susut hanya karena divonis mengindap penyakit kebocoran jantung.

Anak ketiga pasangan Ismail, 60, dan Nursalwa, 38, warga Gampong Raya Dagang, Peusangan, Bireuen itu kini hanya bisa tertunduk lesu seakan melawan jeritan bathinya, ketika harus menerima kenyataan seperti itu.

Tak hanya Putry Nesya, ujian berat kembali menghampiri keluarga Ismail yang sehari-hari bekerja sebagai agen ayam keliling di Peusangan, Bireuen. Adik kandung Putry Nesya yang, M Azmi, 3,5 tahun juga tumbuh dengan kondisi yang tak normal, kaki kirinya seperti layu, sulit bergerak, kendati tubuhnya terlihat sangat sehat dan lincah.

Menurut Nursalwa, isteri Ismail kepada Harian Aceh, Minggu (27/11), penyakit Putry Nesya terakhir diketahui setelah anaknya dibawa ke RSU Zainal Abidin, Banda Aceh tanggal 17 November 2011 lalu.

Saat di Banda Aceh, dokter mengatakan, Putry Nesya mengalami penyakit bocor jantung dan butuh penanganan segera dan harus dibawa ke Jakarta, sebab di Banda Aceh tak ada perlengkapan medis untuk menanganinya.

“Kala itu saya berpikir, jangankan untuk membawanya ke Jakarta, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit, apalagi membawa Putry Nesya untuk operasi ke Jakarta,” katanya, sambil menteskan air mata.

Sebelum di rujuk ke Banda Aceh, keluarga sempat membawa Putry Nesya ke RSUD dr Fauziah, Bireuen. Saat itu tim medis rumah sakit plat merah Bireuen itu langsung memvonis kalau Putry Nesya mengalami gizi buruk.

Lalu kali kedua, lain lagi cerita dan asumsi pihak dokter rumah sakit Bireuen, dari hasil pemeriksaan oleh dokter itu dan dibuktikan dengan Rontgen, tanggal 20 Oktober 2011, Putry Nesya mengalami pembekakan jantung.

Dikisahkannya, awalnya Putry Nesya sempat masuk TK, namun menjelang masuk sekolah MIN, ia mulai batuk-batuk, lalu demam dan mengeluh sakit kepala serta sakit perut.

“Kendati kondisinya saat itu demikian, tapi ia tetap ingin pergi ke sekolah, sehingga saya berinisiatif mengantarnya hingga ke dalam lokal sekolah. Tapi saat pulang, ia sering terduduk dan tak sanggup bergerak, mengeluh sakit di bagian jantungnya,” ujar Nursalwa yang sehari-hari berjualan di kios depan rumahnya.

Penderitaan keluarga Ismail dan Nursalwa tak hanya berakhir disitu, kini ia kembali dihadapkan dengan kondisi adik kandung Putry Nesya, M Azmi. Bocah kecil itu ternyata mengalami kelainan di kaki kirinya.

Kaki kiri M Azmi tak begitu normal saat dibawa bergerak untuk berjalan, berbeda dengan kebanyakan anak lain sebayanya. Kendati tubuhnya begitu normal, namun kakinya sedikit mengecil.
Diakui Nursalwa, untuk memastikan penyakit Azmi, keluarganya sempat membawa ke rumah sakit di Bireuen, di sana dikatakan kalau Azmi kekurangan kalsium. “Tapi selama saya bawa ke tempat terapi, kakinya sedikit berubah dari sebelumnya. Ia mulai mampu mengerakkan dan berdiri dengan menyangga, tapi sebelumnya agak sulit,” katanya.

Perderitaan keluarga Ismail dan Nursalwa, warga gampong Raya Dagang, Peusangan, Bireuen tentu sebuah catatan buram dari sekian banyak kisah pilu yang terlewatkan dari tanggungjawab pemerintah daerah dan elit politik, termasuk para ‘teungku’ di dewan.

Teryata, kita telah lama meninggalkan budaya sosial. Sejatinya, bocah itu merupakan bagian dari kita yang sepatutnya mendapatkan perhatian serius dari semua kalangan.

Saat ini, keluarga Ismail dan Nursalwa membutuhkan uluran tangan kita, mengharap bantuan dana guna penyembuhan kedua anaknya.

Datangilah rumah mereka, rasakan tetesan air mata Nursalwa, orang tua Putry Nesya dan M Azmi menyimpan sebutir asa, berharap ada di antara kita yang masih memiliki rasa sosial untuk membantu pengobatan anak mereka. (Joniful Bahri/HA)

Post a Comment

Previous Post Next Post