Hilangnya Heroisme Perempuan Aceh


Tanggal 15 November 2011 lalu adalah hari mengharukan bagi saya. Ketika melintasi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, tanpa sengaja mata ini menangkap kerumunan massa. Beberapa diantaranya sepertinya begitu akrab di mata saya. Meski ramai kaum adam, saya fokus mencari kaum perempuan.

Tepat seperti dugaan saya, mereka kebanyakan teman-teman lama saya, teman-teman perempuan dari Aceh Rayeuk yang dulunya selalu aktif mengikuti demonstrasi bersama saya. Maka tumpah ruahlah rasa haru dan peluk rindu melepas kenangan masa lalu. Mereka datang ke Banda Aceh masih dengan tujuan yang sama seperti tujuan mereka sebalas tahun silam: berdemonstrasi agar damai Aceh terselamatkan.

Tepat jam 2.00 WIB, para demonstran itupun melangkah menjauhi lapangan Masjid Raya, namun saya masih tetap terpaku di area parkir. Saya menatap lekat ke arah para perempuan itu. Dalam keterpakuan, hati saya pun berucap, “selalu ada perempuan di setiap langkah kaum laki-laki”.

Perempuan-perempuan luar biasa yang lahir di tengah kesemrautan kondisi Aceh. Mereka lahir di tengah perang melawan kolonialisme, mereka lahir di tengah kebuntuan menentukan siapa penggati Sultan, mereka lahir di tengah Darurat Militer hampir diberlakukan untuk Aceh. Selalu ada tokoh perempuan di setiap kegentingan situasi dan kondisi Aceh.

Seandainya masih ada tokoh perempuan, yakinlah perempuan –perempuan itu pasti akan berjalan dan bersuara dalam kerumunan massa perempuan lainnya seperti sebelas tahun silam, bukan hanya pelengkap keramaian dalam barisan para demonstran laki-laki.

Tetapi itu sejarah. Sejarah yang pantas dirindukan. Merindukan tokoh perempuan di Serambi Mekah, merindukan suara-suara lantang mereka, suara-suara yang telah terkubur bersama semangat Cut Nyak Dhien.

Suara-suara perkasa yang sangat pantas dipertanyakan, karena sejarah kita telah bercerita. Bercerita tentang keperkasaan Malahayati dengan pasukan Inoeng Baleenya, bercerita tentang Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dengan pengikut laki-lakinya, lebih jauh lagi bagaimana sejarah menceritakan kesuksesan ke empat sulthanah dalam memimpin Aceh di masa kejayaannya.

Perempuan-perempuan yang dibesarkan di tanah yang tidak berbeda dengan tanah tempat perempuan Aceh masa kini bergeliat. Perempuan-perempuan yang juga terlahir di bumi syariah. Perempuan yang juga lahir di tanah yang dimuliakan oleh berbagai adat istiadat. Perempuan yang juga tumbuh dan berkembang dalam asuhan para ulama.

Namun kenapa perempuan-perempuan tersebut bisa berkiprah secara total melebihi totalitas kaum laki-laki waktu itu? Kenapa tidak ada cibiran dan kata-kata telah melanggar syariat?, Kenapa pula gerak perempuan Aceh masa kini di ranah publik begitu diperdebatkan?

Atau, jangan-jangan kitalah yang sudah memutarbalikkan adat kita sendiri, mengeluarkan fatwa berdasarkan kepentingan individu atau sang penguasa? Entahlah, yang pasti kepahlawanan perempuan-perempuan itu hanya tinggal dalam literatur sejarah.

Semangat kepahlawanan yang seharusnya kita jaga dan kita lanjutkan, seperti amanah Teuku Cut Muhammad kepada istri tercintanya Cut Nyak Meutia “Lanjutkan perjuangan bersama-sama rekan seperjuangan kita”.(T.Alibasjah Talysa,Cut Nyak Meutia).

Pesan terakhir seorang suami yang akan dihukum mati oleh Belanda kepada sang istri tercinta, seolah-olah tidak ada orang lain atau teman dekat yang dapat dipercaya mampu melanjutkan perjuangannya selain daripada istrinya sendiri.

Tipe laki-laki yang sangat jarang dijumpai hari ini. Alih-alih mengizinkan sang istri memimpin pasukan tempur, menjadi legislatif saja akan diperdebatkan panjang lebar. Inilah laki-laki kita hari ini, laki-laki yang sudah kembali ke zaman sebelum Aceh berada di puncak imperiumnya.

Laki-laki yang sudah terkontaminasi dengan gaya hidup dan cara berfikir laki-laki masa Orde Baru. Laki-laki yang telah mendidik kaum perempuan Aceh menjadi perempuan bodoh dan tidak bersuara, laki-laki yang telah membawa perempuan menjadi korban budaya, life style dan konsumeristik.

Persis seperti perlakuan Presiden Soeharto terhadap Ibu Tien. Perempuan cukup sebagai pendamping untuk menghadiri acara-acara kenegaraan saja. Perempuan tidak perlu cerdas, Perempuan cukup dengan cantik, gaul, dan anggun.

Padahal, jika laki-laki Aceh mau berpaling sedikit saja tentang sejarah kepahlawanan perempuan masa silam, di sana mereka akan menemukan bagaimana kiprah Al-Raniri di balik kepopuleran Ratu Safiiyat Al_Din. Bagaimana kiprah Cut Nyak Dhien di samping Tengku Umar, dan seperti apa cinta yang diberikan Teuku Cut Muhammad kepada Cut Nyak Meutia sehingga Cut Nyak Meutia pun dengan penuh kesetiaan meneruskan perjuangan Teuku Cut Muhammad.

Selalu ada laki-laki di setiap langkah kaum perempuan, dan selalu ada perempuan di balik kesuksesan kaum laki-lakinya, karna Allah telah menciptakan hamba-hambaNya sederajat dan mengemban tanggung jawab yang sama.

Perempuan diciptakan bukan untuk menjadi budak atas kaum laki-lakinya, tapi sama-sama sebagai khalifah di atas muka bumi (QS.Al An’Am/6:165), Sama-sama hidup untuk mengabdi kepada sang Khaliq.

Ketika kita menyadari posisi kita sama-sama sebagai khlifah dan sederajat maka aksi saling menyalahkan dan tuding menuding antara laki-laki dan perempuan seharusnya tidak ada lagi. Tidak ada lagi kata-kata rusaknya dunia karena ulah perempuan, hancurnya aqidah bangsa karena kaum perempuan.

Bagaimana dunia tidak hancur dan aqidah bangsa tidak hilang, jika perempuan hanya boleh begerak di ruang batas yang telah di tentukan oleh suami dan para laki-laki? Ironis, satu sisi perempuan dituntut untuk menjadi hero atas kemaslahatan ummat, di sisi lain langkah dan gerak perempuan terus dikekang dan dibatasi.

Realitas yang sangat memprihatinkan. Realitas yang harus dihancurkan sebelum semuanya berubah menjadi fatwa yang tidak boleh diganggu gugat. Bukan lagi zamannya perempuan diam untuk tidak meronta dari kondisi yang telah dikeramatkan oleh lak-laki masa kini.

Tidak perlu menunggu kondisi Aceh berada di ujung tanduk. Tidak perlu menunggu kaum laki-laki kehabisan kata-kata, karena laki-laki Aceh memang sudah tidak memiliki kata-kata untuk mencetak perempuan-perempuan Aceh seperti Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan keempat Sulthanah.

Kemampuan kaum laki-laki Aceh hanya tersisa untuk menjatuhkan dan mencibir serta menghujat kaum perempuannya, selebihnya mereka tidak punya.

Tidak perlu menunggu dan berharap akan lahir Teungku Umar, Teuku Cut Muhammad dan akan datang Ulama seperti Al-Raniri yang mampu mencetak perempuan –perempuan luar biasa. Tidak akan ada laki-laki Aceh masa kini yang rela menanggalkan baju feodalisme dan celana patriarkinya demi kemajuan kaum perempuannya.

Hanya perempuan sendirilah yang mampu merubah nasib kaumnya. Bukankah nasib suatu kaum akan berubah jika kaum itu sendiri yang mau merubahnya?

Semoga esok lusa akan lahir Cut Nyak-Cut Nyak masa kini, semoga akan lahir Ormas perempuan yang selalu kritis dan tanggap terhadap situasi politik kekinian, semoga heroisme perempuan Aceh bukan sekedar penghias buku sejarah, semoga...

***

*) Oleh Cut Meutia (Farah), Saleum - atjehpost.com.

Post a Comment

Previous Post Next Post