Pemerintah Aceh kini mempunyai sebuah gedung mewah di Jalan RP Soeroso, Menteng, Jakarta Pusat. Gedung yang akan digunakan sebagai Kantor Penghubung Pemerintah Aceh, pusat informasi bisnis, dan pusat kebudayaan masyarakat Aceh di Jakarta itu termasuk gedung milik pemerintah provinsi yang paling besar di Jakarta. Penggunaan gedung itu telah diresmikan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Sabtu (17/12).
Peresmian gedung itu ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur Irwandi dan dilanjutkan dengan peusijuek (tepung tawar-red) oleh Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Cabang Jakarta Prof Dr Syamsuddin Mahmud dan pengguntingan pita oleh Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Darwati A Gani.
Turut hadir mantan menteri BUMN Dr Mustafa Abubakar, Ketua DPRA Drs H Hasbi Abdullah, Bupati Aceh Tenggara Ir hasanuddin B MM, Wali Kota Subulussalam Merah Sakti SH, Wakil Wali Kota Sabang Islamuddin ST, Ketua Komisi VII DPR RI Teuku Riefky Harsya, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Teuku Bachrum Manyak, Ketua Taman Iskandar Muda, Teuku Safli Didoh, dan ratusan tokoh Aceh lainnya. Sehari sebelumnya, dilakukan jamuan makan anak yatim dan doa bersama santri dari Pondok Pesantren Mudi Mekar Pondok Gede.
Irwandi menjelaskan, Mes Aceh yang dibangun sejak tahun anggaran 2009 sampai 2011 itu menyerap dana Rp 70,5 miliar, memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak di kawasan paling bergengsi di Jakarta. “Lebih dari itu, Mes Aceh ini diapit oleh tiga bangsawan Aceh dan seorang ulama Aceh,” kata Gubernur. Tiga bangsawan dan seorang ulama Aceh dimaksud adalah Cut Meutia, Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, dan Teungki Chik Ditiro, yang namanya ditabalkan menjadi nama jalan yang berada di dekat Mes Aceh itu.
“Di sebelah utara, terdapat Jalan Cut Meutia dan Masjid Cut Meutia, di barat gedung terbentang Jalan Cut Nyak Dhien, dan terus menyambung ke Jalan Teuku Umar, sedangkan di selatan Mes Aceh terdapat Jalan Tgk Chik Ditiro,” kata Irwandi. Tak seberapa jauh dari Mes Aceh, terdapat Monumen Nasional (Monas) yang dihiasi 38 kg emas; 28 kg di antaranya merupakan sumbangan konglomerat asal Aceh di era Soekarno, Teuku Markam.
- Foto sebelum rampung -
Kepala Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta, Drs T Eddy Syahputra MSi melaporkan, sejak digagas sampai kepada tahap penyelesaian pembangunan Mes Aceh itu, dilakukan dengan keterlibatan tiga Gubernur Aceh. “Ide dan perencanaan gedung tercetus pada 2005 ketika Aceh dipimpin Plt Gubernur Azwar Abubakar, selanjutnya diikuti pembebasan lahan dan perencanaan konstruksi pada masa Pj Gubernur Mustafa Abubakar, serta pembangunan gedung pada masa Gubernur Irwandi Yusuf,” sebut Eddy.
Gedung megah itu dengan mudah bisa dikenali. Pada dinding pagar depan tertera nama “Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Aceh” dan pada atas gedung terdapat “Mess Aceh” yang ditulis mencolok. Ciri lain, arsitektur depannya mengambil corak lengkung Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, terbuat dari batu marmer, dipadu dengan dinding kaca. Interior gedung bertabur ornamen kerawang gayo serta hiasan “pinto aceh” pada pagar. Pos jaga di pintu masuk berbentuk atap Cakradonya.
Gedung itu nantinya dilengkapi dengan bank, resto, dan gerai produk-produk tertentu, termasuk travel biro dan sebagainya. Seusai peresmian, Gubernur langsung menggelar rapat perdana di lantai tiga gedung itu. Rapat tersebut diikuti Ketua Dewan Penasihat Sabang Adnan Ganto, Ketua Taman Iskandar Muda, T Safli Didoh. “Kami membicarakan percepatan pembangunan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas,” kata Gubernur usai rapat. (fik/SI)

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf didampingi Ketua DPRA, Hasbi Abdullah menandatangani Prasasti saat meresmikan gedung Kantor Penghubung Pemerintah Aceh dan Mess Aceh di Kawasan Menteng, Jakarta , Sabtu (17/12).

