Bangunan berlantai dua itu menjulang dengan wajah kolonial: berjendela panjang dan lebar, berpintu besar dan tiang penyangga sepelukan orang dewasa. Di bagian atas, di bawah atap, terukir gambar bulan bintang.
Dari luar, tak ada yang istimewa selain modelnya yang bernuansa kuno dan ketinggalan jaman. Namun, siapa sangka, rumah yang dibangun tahun 1860-an itu ternyata merekam jejak orang Aceh dua abad silam.Memasuki rumah itu, suasana abad ke-19 langsung menyergap. Di ruang tengah, dipajang guci-guci, replika kapal laut yang dipakai untuk berdagang rempah-rempah, hingga al-quran tulisan tangan yang sudah berusia ratusan tahun. Yang bikin takjub, ada pula mata uang Kerajaan Pasai yang diperkirakan berusia 300-400 tahun. Berwarna kuning keemasan dan bertulisan huruf Jawi, mata uang itu berukuran sebesar kancing kemeja. Ada pula yang ukurannya sebesar uang koin Rp 1.000.
Sayed Muhammad Al-Attas, sang pemilik rumah adalah seorang saudagar dari Aceh. Berasal dari keturunan Arab, ia berdagang lada dan aneka rempah-rempah hingga ke Pulau Penang, Malaysia. Menikahi kerabat Diraja Melayu, Sayed menetap di pulau itu. Belakangan, ia menyunting pula anak gadis Khoo Tiang Poh, seorang saudagar lada hitam Cina Selat.
Selain pedagang, Sayed Al-Attas juga pejuang. Saat meletus perang Aceh pada 1873, ia menyokong perjuangan Aceh melawan penjajah Belanda dengan memasok senjata api kepada pejuang-pejuang Aceh. Selain sebagai tempat kediaman, rumah ini juga pernah digunakan sebagai tempat pertemuan rahasia pemimpin-pemimpin Aceh kalaitu.
Jalan Acheh. Begitulah nama jalan tempat Sayed tinggal. Terletak di pusat pulau Penang, jalan itu penuh bangunan-bangunan kuno nan terawat. Selain rumah Sayed, ada juga Mesjid Acheh yang dibangun oleh orang Aceh tahun 1808. Sayed Al-Attas pernah menjadi imam besar di mesjid ini. Selain tempat ibadah, pada masa itu, dari mesjid inilah orang-orang berangkat haji ke Mekkah. Jika Aceh dijuluki Serambi Mekkah, jalan Acheh di Penang punya julukan: Jeddah kedua.
Jika berkunjung ke sini, jangan berharap akan menemui Sayed Al-Attas. Ia telah lama tiada. Yang ada hanya sketsa diri yang dipadu dengan riwayat hidupnya tergantung di dinding ruang depan. Sejak 2004 lalu, rumah itu berubah fungsi menjadi Museum Islam Pulau Penang. “Keluarganya pun tidak tahu lagi di mana sekarang,” ujar Siti Rahida yang sudah empat tahun bekerja sebagai penerima tamu di rumah itu.
Sejak tahun 1930-an, rumah ini tak terawat. Bahkan, bangunan yang dikenal dengan nama Rumah Agam ini sempat direncanakan untuk dirobohkan karena terkena perluasan jalan. Namun, karena pertimbangan sejarah, akhirnya rencana itu batal.
Pada 1993, barulah rumah ini diperbaharui lewat proyek restorasi yang diketuai oleh Didier Repellin, pakar konservasi sejarah dari Lyons, Perancis. Sepuluh tahun kemudian, rumah ini secara resmi dijadikan Museum Islam Pulau Pinang.
Menurut Siti Rahida, tak banyak orang Aceh yang mengunjungi museum ini. “Yang datang ke sini paling banyak orang asing,” ujar Rahida.Benar saja, saat The Atjeh Post mendatangi rumah ini Jumat (29/4), dalam daftar buku tamu, selama 2011 hanya terselip empat pengunjung dari Aceh. Kebanyakan yang datang berasal Jepang, Cina, Inggris, Perancis, Mesir hingga Bosnia.
Untuk masuk ke sini, anda cukup membayar RM3 atau setara Rp 9 ribu. Jika sudah di dalam, siap-siaplah terlempar ke abad 19: saat Sayed masih berdagang lada sambil memasok senjata untuk bekal pejuang Aceh berjibaku melawan penjajah Belanda. [atjehpost.com]
