Orang Gila dan Pemimpin Aceh


Siapakah orang gila? Melihat riset, pasca tsunami dan konflik di Aceh tak banyak pasien jiwa bertambah di Aceh. Tapi sebuah pendapat dan kenyataan lain, orang gila di Aceh meningkat drastis setelah dua bencana itu.

Epilog I

Suatu hari di kedai kopi Ulee Kareng. Baru 10 menit saya duduk bersama rekan-rekan, seorang berpenampilan kusut dengan baju lusuh dan kotor, rambut panjang gimbal dan acak, masuk ke warung. Semua tahu dia, karena telah biasa. Dan semua meng-klaim-nya sebagai orang gila. Kendati tak ada yang berani menyebutnya di muka si gimbal itu. Kalaupun ada, mungkin dia akan cuek saja.

Tanpa bicara sepatah pun, dia merapat ke meja yang ada nasi bungkusnya. Satu diambil, dan bergegas mencari tempat kosong yang kebetulan ada di meja paling depan. Duduk sebentar saja sambil menyantap nasi, kopi sudah diantar ke tempatnya, walau tanpa memesan. Padahal saat itu, kedai sangat ramai. Bayangkan, kalau anda duduk di sana tanpa memesan dan lolos dari perhatian pramusaji, dijamin kopi anda tak bakalan datang sampai setengah jam kemudian.

Saya sering memperhatikan dia, ada tata krama sendiri dan tak pernah menganggu para pelanggan. Usai menyantap makan, masih dengan kebisuannya, dia bergegas pergi entah kemana, mencari peraduannya dalam pikiran yang tak berarah.

Epilog II

Merenung mereka, saya teringat pada sebuah awal Januari 2005, sebulan setelah tsunami. Saya dan seorang rekan melakukan liputan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Memang saat tsunami banyak penghuninya yang lari menyelamatkan diri, karena pada saat gempa para pegawai membuka pintu-pintu.

Kata yang berwenang, banyak pasien yang sudah kembali, hanya tinggal beberapa lagi di luar atau mungkin telah menjadi korban. Unik, mereka tahu kembali ke asalnya.

Setelah liputan, saya menikmati sejenak sambil mengusili pasien yang telah hampir sembuh dan bisa berkeliaran di halaman. Ada yang bercerita tentang keinginan menjadi tentara, ada yang putus cinta, dan berbagai lainnya. Ehh... tak lama, malah saya balik diganggu oleh seorang pasien wanita yang rambutnya dikepang dua.

“Aduh, abang artis ya, rambutnya panjang,” sebutnya sambil tertawa dengan kepada rekannya. Saat itu, rambut saya masih panjang ikal. Masih panik, si rambut kepang menyaru lagi, “minta uang dong abang artis.” Baru mau berkelit, dia sudah usil lagi, “artis, ganteng, tapi pelit, nggak kawan ahh...” Dia lalu pergi begitu saja.

Si Pria yang ingin jadi tentara berujar, “bang gak usah di-open, gilanya itu masih parah.” Duhhh... saya tergelak dan memutuskan untuk segera pergi, lama-lama saya bisa jadi gila juga, meladeni pasien jiwa.

Tapi saya tak mau membohongi, bahwa ada banyak kisah bijak terambil dengan penuh sadar, dari kegilaan mereka dalam mencari kehidupannya.

Pasca tsunami dan konflik, tak banyak memang pertumbuhan jumlah pasien jiwa di Aceh, tapi ada. Begitu setidaknya hasil riset lembaga-lembaga kajian tentang ini. Artinya, tak banyak orang stres setelah dua bencana itu. Itu sedkit membanggakan kita. Orang-orang Aceh terkenal dengan ketahanannya secara psikologis dalam menghadapi bencana, karena ‘mungkin’ ketaatan dalam beragama.

***

Gila melekat sejak lama di Aceh, karenanya kerap terdengar ‘Aceh Pungo’. Dulu Belanda mengkampanyekan itu saat mencoba menaklukkan Aceh. Orang Aceh disebut sebagai orang yang bejat moral. Mereka berkampanye, orang Aceh sering melakukan mesum bahkan dengan anak di bawah umur, mengisap madat, dan memotong penis lawan-lawan mereka setelah mati.

Belanda ingin memecah-belahkan kaum ulama dan pemimpin di Aceh. Satu lagi, ingin menyemangati prajurit mereka untuk melawan pejuang Aceh yang jago perang.

Naar Atchin, de kraton! Daar zetelt het kwaad.
Schuilt ontrouw, broeit zeeroof en smeude verraad.
Roeit uit dat gebroedsel, verneder die klant.
Met Nederlands driekleur ‘beschaving’ geplant.

(Ke Aceh, ke dalam, di sana bercokol kejahatan. Bersembunyi kemunafikan, bersarang perampokan dan pengkhianatan. Enyahkan komplotan, hancurkan perampokan. Tanamkan ‘peradaban’ dengan si tiga warna)

Nukilan sastra karangan Haagsma pada 1877, saat Belanda terus mencari cara mengumpulkan tentara yang mau diberangkatkan ke Aceh. Hasutan itu sebagai kampanye bahwa orang-orang Aceh bejat dan perlu diperangi.

Lama ‘bejat’ digelar dan dikampanyekan di benua lain. Sampai sebuah penelitian mendalam yang dilakukan Snouck Hurgronje pada tahun 1893 dalam bukunya ‘De Atjehers’ (orang-orang Aceh). Saat itu, belanda baru menyadari, musuh mereka adalah lawan terhormat. Tuduhan mesum dan penghisap madat terhapus.

“Akan tetapi pada waktu itu, ia (Aceh) pun sudah hampir kalah, sedang kita (Belanda) belum lagi sampai sejauh itu,” Paul Van’t Veer menulis dalam bukunya, De Atjeh Oorlog (perang Belanda di Aceh).

Terlepas dari gila-gila, siapakah sesungguhnya orang gila di Aceh. Jawaban saya dapat, usai slahat Jumat di sebuah Masjid. Saya tercengang saat khatib mengutib sebuah hadist Nabi Muhammad. Kisahnya kira-kira seperti ini: Suatu hari saat Nabi Muhammad masih hidup, beberapa anak dilihatnya sedang menganggu orang gila. Nabi menegur, “jangan kau ganggu dia wahai anakku.”

“Kenapa wahai Rasul, dia kan orang gila,” seorang anak menyela. “Dia bukan gila, tapi sedang mendapat cobaan Allah,” kata Nabi. Para anak-anak itu berhenti, sampai kemudian beberapa sahabat menanyakan, “lalu siapa sebenarnya orang gila.”

Nabi pun menerangkan: “Orang gila adalah pemimpin yang sombong dan congkak, orang kaya yang sombong dengan hartanya, orang pintar yang sombong dengan kepintarannya dan orang miskin yang sombong dengan kemiskinannya.” Begitulah kira-kira yang saya rekam.

Sejak itu, saya merubah pendapat saya tentang orang gila yang sesungguhnya. Yang biasa disebut gila, saya sebut dengan sakit jiwa. Dan ‘orang gila’ sesungguhnya, saya tak berani menyebutnya siapa mereka. Semakin berpikir, saya bisa semakin gila.

Saya merenung tentang tatakrama orang yang sakit jiwa yang sering ditabalkan sebagai orang gila. Mereka sopan asal jangan diganggu, tak menganggu bila tak diusik. Tapi ada yang benar-benar gila seperti kata Nabi yang mengusik tanpa perlu diganggu.

Saya tak ingin berceramah, karena tidak sedang menjadi khatib. Tapi, sang khatib pada akhirnya menyampaikan kesimpulannya. “Kalau itu yang disebut gila, maka banyak sekali orang gila di Aceh,” sebutnya.

Mungkin saja. Pada sisi lain, pasca tsunami dan konflik orang gila semakin bertambah. Jika orang kaya sombong maka dia adalah ‘orang gila’, orang pintar angkuh maka di juga ‘orang gila’, si miskin sombong juga ‘orang gila’ dan pemimpin yang congkak bin sombong juga masuk kelompok ini.

Siapa saja mereka? Pembacalah yang menilai sendiri. Ketika zaman sudah saling sikut untuk merebut kuasa. Ketika bibir menjadi manis untuk merebut simpati orang. Banyak yang kadang mengumbar congkak dengan segepok uang. Ada juga yang sok tahu dalam kepintarannya yang bodoh.

Bahkan mungkin saja, saya sendiri juga masuk kategori orang gila. []

Oleh ADI W, atjehpost.com

***

Previous Post Next Post