Perbandingan Terbalik Cut Nyak Dhien dan R.A Kartini

Hari Kartini merupakan suatu hari dimana para wanita dielu-elukan sebagai sosok yang berbahagia dan pantas untuk disejajarkan dengan laki-laki, kehadirannya di masa kini terasa sangat kuat dengan ditetapkannya tanggal 21 April sebagai hari emansipasi wanita, namun ingatkah kita tentang sosok wanita lainnya yang berjuang dengan lebih superior bahkan melebihi kaum laki-laki dimasanya. Dengan berbekal semangat pemberontakan terhadap penjajah akan segala penindasan yang selama ini dirasakan beliau rela untuk meninggalkan kemewahan sebagai seorang bangsawan.
Sosok itu adalah Cut Nyak Dhien seorang wanita yang tegas, bijaksana dan cerdas memimpin para pejuang yang mayoritas laki-laki untuk bangkit membela kemerdekaan. “Kekecewaan dan kesedihan sebagai akibat ditinggal suaminya dan darah kepahlawanan yang mengalir dari keluarganya menjadi dasar yang kuat bagi perjuangan Cut Nyak Dhien, bahkan ia pernah berjanji akan bersedia kawin dengan laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut bela terhadap kematian suaminya"(Hazil, 1952: 43)”. Dengan hidup menjanda dia mulai menapakkan kakinya kemedan perjuangan meninggalkan harta, warisan, pelayanan para dayang, berpuasa demi makan anak buahnya dan membiarkan tangannya bersimbah darah kematian para kompeni.

Darah dan air mata berlinang membanjiri langkah kaki beliau hingga menguasai wilayah VI Belanda, bersama suami barunya yang merelakannya berjuang atas persetujuan Tgk.Tjik Di Tiro bahu membahu mengobarkan semangat perjuangan yang membuat Belanda banyak mengelurkan dana baik untuk membeli senjata, peralatan tempur, maupun tebusan bagi orang-orang Belanda yang tertangkap.

Tulisan C. Van der Pal (Said, 1961) menyatakan bahwa:

“Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dhien sendiri. Serangan-serangan kelewang yang hebat-hebat dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas perintah Cut Nyak Dhien sendiri. Untuk selanjutnya segala perjuangan yang ada di Aceh, terutama di Aceh Besar adalah menurut petunjuknya”.

Dari tulisan orang Belanda ini banyak diketahui bahwa sifat kepemimpinan dan kecerdasan taktik beliau mampu merepotkan pergerakan Belanda yang menghargai kepalanya dengan sangat mahal. Banyak jiwa yang jatuh tidak hanya ratusan bahkan ribuan baik dari pihak Belanda maupun Tjut Nyak Dhien bahkan suami keduanyapun gugur di medan perang sama seperti suaminya yang pertama. Dengan tehnik perang gerilyawannya mampu menekan Belanda hingga memanggil bantuan yang lebih besar yang kemudian mengurung tiap ruang lingkup nafasnya hingga banyak yang mati, menyerahkan diri maupun meninggalkannya sendiri dalam ketuaan, penyakit dan kerabunan.



“Selama enam tahun Cut Nyak Dhien memimpin perjuangan bersama pengikutnya. Kerentaan karena usia, penyakit encok, dan rabun melemahkan tubuhnya. Sumber makanan yang tidak pasti karena benar-benar telah habis. Penderitaan yang begitu berat membuat iba Pang Laot selaku panglimanya. Suatu saat pernah disampaikannya perasaan ini kepada Cut Nyak Dhien untuk menghentikan perlawanan. Kemarahan, kemurkaan, dan caci maki yang diterima oleh Pang laot dari Cut Nyak Dhien, dengan suara keras dan murka Cut Nyak Dhien berkata: Lebih baik aku mati di rimba ini daripada menyerah kepada kafir”. (chotheson blog)

Dalam akhir hidupnya setelah tertangkap oleh Belanda beliau sebagai wanita renta diasingkan berpindah-pindah agar tidak bertemu dengan pengikutnya maupun mengajak para pejuang baru untuk memberontak. Sedangkan Ibu kita Kartini yang namanya menjadi sebuah lagu yang selalu terngiang dikepala kita berjuang lewat surat diarynya, kepada teman penanya, suaminya dan dirinya.

Lewat surat kepada Estelle Zeehandellar, mengungkapkan: “Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menentang kami. Aduhai! Betapa banyaknya dukacita dahulu semasa kanak-kanak di sekolah; para guru dan banyak di antara kawan mengambil sikap permusuhan kepada kami…” , dan dari tiap ucapan tersirat perjuangan yang mengkonstruksi pada pembelajaran kaum wanita yang sejajar dengan kaum pria.

Dari kedua wanita tersebut kita mampu belajar bahwa perjuangan itu harus disertai oleh kekerasan hati dan ketulusan jiwa sedangkan mengapa yang satu menjadi lebih dominan terhadap yang lain itu adalah suatu hal yang lain, mungkin faktor kepentingan, ataukah politik Orde Baru, bisa jadi… atau tidak sama sekali...

Post a Comment

Previous Post Next Post